Peran Parenting Ayah Milenial

Bagaimana Peran Parenting Ayah Milenial?

Menjadiayah.com Ayah memiliki peran penting dalam parenting anak, kiranya hal ini yang generasi milenial saat ini sadari. Generasi milenial, ketika memutuskan menikah dan memiliki anak, begitu paham bahwa ada peran yang harus mereka jalankan. Ini bisa kita lihat bagaimana saat ini suami dan istri atau pasangan milenial cenderung memiliki pembagian peran yang jelas dalam pengasuhan anak.

Apakah ini berarti bahwa generasi sebelum ini tidak terjadi pembagian yang jelas? Tentu saja tidak demikian cara berpikirnya. Namun, ketika kita banding dengan generasi terdahulu, peran orang tua pada era digital ini memang berbeda.

Jika dulu Ayah lebih banyak kita gambarkan sebagai satu-satunya sosok yang mencari nafkah, sosok yang bertanggung jawab pada semua urusan finansial. Kemudian, Ibu adalah sosok yang sepenuhnya bertanggung jawab pada perawatan dan pendidikan anak.

Cara pandang generasi terdahulu perihal pembagian peran dalam keluarga ini, pada akhirnya menjadikan keterlibatan Ayah dalam parenting sangat sedikit. Walau tidak keseluruhan, namun banyak ayah generasi terdahulu yang tidak benar-benar mengikuti perkembangan anak mereka, bahkan bisa kita katakan tidak ambil bagian dalam peran pengasuhan anak.

Nah, saat ini atau generasi milenial seperti sekarang ini, cenderung lebih terbuka dalam pembagian peran. Persoalan ekonomi / finansial keluarga pun tidak serta merta menjadi tanggung jawab lelaki atau suami. Semua bisa saling mengambil dan mengisi bagian dalam upaya membangun rumah tangga.

Tidak ada soal, ketika ayah menjalankan peran pengasuhan, pun tidak ada soal ketika istri juga meniti karier. Semua tentu sesuai dengan kesepakatan. Namun pada peran pengasuhan ini, walau tentu saja tidak dapat membagi 50:50 namun setidaknya ada fokus bersama untuk menjalankan peran pengasuhan demi tumbuh kembang anak yang lebih baik.

Ayah milenial bisa menjalankan peran parenting ayah dengan berbagai cara. Paling sederhana misalnya dalam sela kesibukan sehari-hari / pekerjaan, tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan istri terkait perkembangan anak. Peran parenting ayah milenial bisa dilakukan dengan cara berikut ini:

Parenting Ayah Milenial Sesederhana Bermain Bersama

Tidak sedikit ayah milenial yang sudah mengambil peran parenting sejak kali pertama anak lahir ke dunia. Bahkan bisa jadi jauh sebelum itu, sejak dalam kandungan. Ini satu keistimewaan tersendiri dalam memerankan peran menjadi ayah tentu saja.

Namun demikian, tidak sedikit ayah yang baru benar-benar berani mengambil peran pengasuhan ketika anak sudah menginjak usia 2 hingga 3 tahun. Alasannya sederhana, misalnya adalah ketika anak sudah tidak menyusu ASI, sehingga bisa bersama ayah dan ibu bisa mengerjakan hal lain bahkan bepergian.

Selain itu, karena pada usia ini anak juga sudah mantap dalam berjalan juga berlari. Hal ini menjadikan anak sudah kuat, sudah banyak hal yang bisa dilakukan bersama ayah. Paling umum adalah bermain bersama ayah. Ingat, dunia anak-anak adalah bermain. Dan kebanyakan lelaki masih memiliki dunia bermain ini bahkan ketika sudah menjadi ayah.

Maka, dalam menjalankan peran parenting ayah milenial, pembaca bisa mengajak anak untuk bermain. Mulai saja dengan permainan tradisional atau sederhana seperti berlari-larian atau bermain sepeda berkeliling taman akan jadi waktu menyenangkan bagi anak dan ayah. Ini akan menumbuhkan kedekatan.

Akan tetapi, ayah juga patut mengingat bahwa pada usia ini, anak mulai memasuki masa sulit diatur. Karena anak sudah mulai bisa memilih dan memiliki kehendak yang lebih.  Tentu saja dalam menjalankan peran parenting ayah milenial akan ada banyak penolakan dari anak. Maka, menjadi ayah milenial kita harus lebih kreatif dalam mengajak anak bermain.

Ingat, tumbuh kembang anak begitu cepat. Sebentar lagi anak-anak sudah mulai masuk sekolah, lalu menyelesaikan kuliah, lalu bekerja, lalu menikah. Semua seakan tidak terasa, semua berlalu begitu cepat. Maka, menjadi ayah adalah upaya pengasuhan dan menemani anak untuk memulai dunia mereka sendiri.

Maka, luangkan waktu untuk terus membangun kedekatan bersama anak. Cara paling mudah adalah mengajak mereka bermain. Ketika ayah sudah diterima dalam permainan anak, itu tanda yang bagus, tanda bahwa mereka memiliki kedekatan dan merasa nyaman dengan ayah.

Menjadi Ayah Yang Hangat Tidak Harus Permisif

Jika kita ingat-ingat kembali, mungkin ayah adalah sosok yang selalu memberi izin perihal apa pun yang kita minta atau ingin. Setidaknya kebanyakan begitu. Saya pun mengalami hal yang sama. Ayah saya adalah sosok yang menjalankan pola asus permisif, namun beliau selalu wanti-wanti perihal tanggung jawab atas pilihan atau permintaan yang saya ajukan.

Saya kira kebanyakan ayah memiliki sisi permisif, ayah akan dengan mudah memberi lampu hijau kepada anak-anaknya. Ini yang kemudian menjadikan ayah begitu hangat bagi anak-anaknya, tidak jarang kemudian menjadikan anak ‘tergantung’ pada sifat ayah ini.

Nah, dalam menjalankan peran parenting ayah milenial, kita juga harus menjadi ayah yang hangat bagi anak-anak kita. Namun, alangkah baiknya, jika kita mampu melakukan pengereman untuk tidak selalu bersikap permisif pada anak. Tidak semua yang anak mau harus kita bolehkan atau turuti.

Mengapa ini penting? Karena menjadi ayah ternyata perlu untuk memegang kendali atau memiliki aturan. Yang mana aturan ini adalah aturan yang dibuat bersama, tentu saja bersama anak. Dengan berbagai aturan bersama ini, ayah  bisa menghindari pada  sikap permisif.

Sehingga, ada rem yang bisa dijadikan pijakan bersama. Ini akan sangat membantu dalam ‘menolak’ atau mengkaji ulang permintaan anak. Tentu anak akan paham, karena memang ada aturan bersama.

Dengan adanya aturan bersama, yang aman ayah kemudian tidak selalu menuruti kemauan anak, pada akhirnya akan membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Sesederhana, ketika anak harus belajar pada jam belajar, dan baru boleh bermain pada jam bermain. Di sini, tentu menunjukkan adanya keterlibatan anak pada aktivitas dan tumbuh kembang mereka.

Kita bisa mengaju pada penelitian yang dilakukan Academics at the University of Newcastle pada 2008 menemukan, Ayah yang terlibat secara langsung membuat anak memiliki IQ lebih tinggi 10 poin.

Catatan Ayah

Kunci penting hari ini adalah komunikasi. Seperti pernah saya catat sebelumnya perihal meminta istri berhenti bekerja misalnya, yang mana landasannya karena memang ada faktor yang tidak memungkinkan lagi bekerja, bukan karena melarang perempuan bekerja. Juga pembagian tugas pengasuhan dengan istri agar sama-sama bisa memiliki me time!

Nah, dalam parenting ayah saat ini misalnya kita bisa fokus pada hal-hal kecil, sesederhana selalu memiliki waktu untuk bermain bersama. Ini bisa kita lakukan sebelum berangkat kerja, atau sepulang kerja, 30 menit sudah sangat berarti. Ingat! Jangan sia-siakan waktu yang begitu cepat berlalu.

Terima kasih telah membaca parenting ayah kali ini mengenai; Peran Parenting Ayah Milenial. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi referensi kita bersama dalam menjalankan peran parenting ayah.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai di sini, terima kasih sudah membaca. Salam

More Stories
Keceriaan Nala Seketika Padam
Keceriaan Nala Seketika Padam