Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri

Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri

Menjadiayah.com Dalam berbagai kesempatan berbagai perihal bagaimana menjadi ayah? Mungkin yang akan paling sering kita dengar adalah, saran untuk mulai memiliki waktu bersama dengan anak, dan mencurahkan kasih sayang yang cukup pada mereka.

Nah, dua hal ini sebenarnya adalah karakter dasar seorang ayah. Jika kita perhatikan, yang namanya kasih sayang memang akan selalu hadir dari orang tua kepada anak-anaknya. Bentuknya dan ekspresi kasih sayangnya yang berbeda-beda.

Kita yang saat ini telah menjadi seorang ayah misalnya, akan menyadari bahwa ‘sikap keras’ ayah kita dulu, nyatanya adalah wujud rasa sayang beliau kepada kita. Hanya saja dalam kaca mata kita yang waktu itu masih ‘remaja’ atau bahkan ABG, melihat itu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, atau kekangan.

Saya sedang berusaha untuk memahami sekali lagi figur ayah saya sendiri. Ini saya lakukan, sebagai cara yang memang efektif agar saya bisa lebih memahami apa yang sekiranya perlu dilakukan. Ayah saya telah mendidik saya sejauh ini, sampai kemudian saya menyandang status yang sama dengan beliau.

Bertanya dan Berbagi Cerita Parenting Pada Ayah

Ada banyak hal yang masih tersembunyi dalam ingatan saya. Tentang bagaimana masa kecil saya dalam asuhan ayah dan ibu saya. Maka, ketika akhirnya saya juga menjadi seorang ayah, meluangkan waktu untuk berkunjung kepada ayah saya adalah hal yang luar biasa istimewa.

Menciptakan waktu khusus bersama orang tua untuk berbagi cerita seputar parenting ternyata sesuatu yang penting. Mungkin sahabat pembaca akan beranggapan  bahwa pasti ada GAP antara cara panrenting dulu dan kini.

Memang ada, perbedaan cara pandang dalam pengasuhan anak. Banyak hal-hal yang mungkin dalam kaca mata kita hari ini sudah tidak relevan untuk kita terapkan dalam perang parenting.

Namun menurut saya, ketika kita mau lebih mendengarkan, ada peluang untuk ‘memodifikasi’ atau menjadikan model pengasuhan orang tua kita, menjadi versi hari ini.

Kuncinya berani bertanya dan mendengarkan. Saya mulai banyak bertanya kepada ayah saya, apa saja perjuangan yang dilakukan oleh beliau ketika mendidik saya dan kakak saya,  dan apa yang beliau takutkan.

Juga perihal apa yang menjadi harapan beliau dari kami. Bagaimana perjuangan ayah dalam membersamai tumbuh kembang kami?

Jawaban-jawaban beliau ternyata sangat menarik. Saya kemudian paham, bahwa ayah saya pun tidak sekedar menjadi ‘pemenuh urusan ekonomi’ beliau juga berbagi peran dalam pengasuhan anak. Tentu saja dengan porsi dan cara yang agak berbeda dibanding ibu saya.

Saya kira, benar adanya bahwa ada hal-hal yang kita warisi dalam parenting. Apa yang saya lakukan hari ini nyatanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dulu ayah saya lakukan kepada saya.

Ketika saya tumbuh dewasa misalnya, bagaimana beliau sangat terbuka, sangat bersahabat. Dan hal ini pula yang menjadi harapan saya ketika kelak Nala dewasa, saya ingin menjadi sahabat anak-anak saya.

Terima kasih telah membaca catatan ayah kali ini mengenai ; Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi referensi kita bersama dalam menjalankan peran mengasuh anak.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai di sini, terima kasih sudah membaca. Salam.

More Stories
Ayah Mengasuh Anak Dalam Parenting Islami
Ayah Mengasuh Anak Dalam Parenting Islami