Cara agar Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab

Cara Agar Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab

Menjadiayah.com Siapa yang tidak mendambakan anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Saya kira, semua orang tua menginginkan hal tersebut. Namun, upaya apa yang telah kita lakukan untuk mewujudkan hal tersebut? Bagaimana cara agar anak mandiri dan bertanggung jawab?

Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Juga apa yang akan saya tuliskan tidak serta merta menjamin bahwa anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab ketika menjalankan cara-cara yang saya bagikan. Namun, menilik pada berbagai kasus, bagaimana orang tua yang berhasil dalam membersamai tumbuh kembang anak mereka. Kiranya cara-cara yang akan saya bagikan patut juga kita terapkan.

Karena menjadi seorang ayah bukan perkara yang berlangsung dalam sehari. Menjadi ayah adalah upaya belajar sepanjang hayat. Berbagai cerita pengalaman, sumber referensi yang terpercaya, tidak ada salahnya untuk kita terapkan. Tentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi anak.

Apa saja yang bisa kita lakukan agar anak tumbuh memiliki karakter positif; mandiri dan bertanggung jawab? Berikut hal-hal yang bisa kita ajarkan dan biasakan pada anak-anak kita:

1. Ajarkan Brainstorming untuk Memecahkan Masalah

Ajarkan Brainstorming untuk Memecahkan Masalah

Dunia anak-anak bukan dunia yang tanpa masalah. Anak-anak pun memiliki berbagai masalah, yang tentu saja masih berkaitan dengan hal-hal sederhana bagi kita orang dewasa. Namun, kemampuan anak dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kecil yang muncul dalam keseharian, adalah titik awal bagaimana nanti mereka mampu tumbuh mandiri dan bertanggung jawab.

Sebagai contoh, Nala anak saya memiliki mainan kesayangan berupa kelinci, mainan ini membutuhkan daya baterai, karena mainan ini bisa bersuara, bernyanyi, berhitung dan berbagai  hal lain kaitannya dengan suara. Karena Nala kurang erat dalam menggendong mainan kelinci ini, suatu ketika mainan ini terjatuh, yang mana menjadikan baterai mainan ini keluar.

Karena baterai keluar, maka mainan tidak bisa berbunyi lagi. Nala berulang kali mencoba menghidupkan dan tidak berhasil. Saya mencoba mengajarkan barainstorming pada Nala.  Walau dia terkesan menyerahkan urusan mainan kelinci itu yang Nala menyebutnya ‘rusak’ untuk segera saya perbaiki.  Ya memang dalam usia Nala, tentu belum bisa memasang baterai sendiri.

Namun saya mencoba untuk mengajak Nala memahami mengapa mainan kelinci miliknya ‘rusak’.  Saya mulai mengajak Nala berdiskusi “Apa masalahnya?” kemudian saya pancing dengan pertanyaan “Apa Nala tahu apa yang membuat kelinci ‘rusak’?” Saya lanjutkan, “Apa yang kurang?”

Saya terus mengajak Nala berdiskusi, hingga ia mendapatkan solusi. Nala menunjukkan bahwa baterai kelinci tidak pada tempatnya, Nala jadi paham harus ada baterai agar kelinci ini bisa berbunyi. Dan Nala juga pelan-pelan memahami, jika kelinci ini akan kembali ‘rusak’ atau tidak berbunyi jika terjatuh dari gendongannya.

Tentu saya melakukan ini tidak dalam sekali adegan. Ada berbagai adegan, berbagai momen. Semua diulang-ulang, sampai kemudian Nala paham. Pada kelinci rusak yang kali pertama, kali ke dua, sampai kali entah ke berapa, yang kemudian menjadikan Nala mulai memikirkan sendiri atau berusaha sendiri memperbaiki kelinci yang rusak.

2. Jangan Berperan Sebagai Penyelamat, Ajarkan Anak Tanggung Jawab

Jangan Berperan Sebagai Penyelamat, Ajarkan Anak Tanggung Jawab

Sebagai orang tua sering kali kita menjadi penyelamat bagi anak. Ketika anak melakukan kesalahan misalnya, sering kali kita hadir sebagai pembela, atau pemberi solusi atas kesalahan yang anak lakukan. Dalam jangka panjang ternyata hal ini tidak baik.

Anak akan terbiasa mencari perlindungan ketika melakukan kesalahan. Selain itu, anak juga tidak akan belajar dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Lebih jauh, anak akan menganggap bahwa berbagai kesalahan yang mereka lakukan wajar, dan akan mendapat pembenaran dari kita sebagai orang tua.

Maka, penting untuk bisa memilah kapan waktu yang tepat menjadi penyelamat bagi anak. Dalam kasus seperti apa, dan tentu saja tetap melakukan pendekatan yang tidak secara penuh memberi kemudahan pada anak. Tetap berikan nilai-nilai, lakukan komunikasi agar anak paham bahwa apa yang merek lakukan itu keliru.

Contoh paling sederhana, misalnya anak tanpa sengaja merusak mainan temannya, kemungkinannya adalah anak akan merengek pada kita untuk mencari perlindungan dari kesalahan yang telah ia buat. Maka, ini waktunya bagi kita untuk mengajarkan anak bertanggung jawab atas kesalahannya. Ajak anak meminta maaf kepada temannya dan mencari solusi dengan melakukan brainstorming.

Dengan kita melakukan barinstorming, sampai kemudian anak memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Maka, anak akan tumbuh dengan didikan yang bertanggung jawab. Mereka akan memahami bahwa ada sesuatu di luar diri mereka, ketika mereka melakukan kesalahan atau kekeliruan, mereka harus menyelesaikan / berani bertanggung jawab.

3. Tunjukkan Bagaimana Cara Menentukan Pilihan

Tunjukkan Bagaimana Cara Menentukan Pilihan

Hidup adalah perihal pilihan dan pilihan. Dalam dunia anak-anak, berbagai pilihan masih sederhana, bahkan sering kali anak-anak tidak mengambil satu pilihan, namun semua pilihan yang ada. Ya, karena dalam dunia anak-anak pertimbangan akan sebuah pilihan belum kompleks.

Namun, penting sebagai orang tua untuk membiasakan anak belajar memilih, ajari mereka cara menentukan pilihan yang tepat. Misalnya ketika mereka akan bermain, kemudian ingin membawa mainan mereka ke rumah teman. Karena membawa lebih dari satu tidak bisa, maka biarkan mereka memilih satu yang terbaik untuk mereka bawa.

Cobalah untuk menahan diri, jangan kemudian kita yang berperan membawakan mainan anak kita agar semua biasa dibawa ke tempat temannya. Biarkan anak menentukan yang mana yang akan dia bawa dan bisa dia bawa. Ini akan memberikan pemahaman bahwa dalam hidup, ada hal yang bisa menjadi pilihan prioritas dan menjadi pilihan ke dua, ke tiga dan seterusnya.

Dalam memilih baju ganti misalnya, istri saya selalu mengajak Nala untuk memilih sendiri, baju mana yang akan dia gunakan saat itu. Tentu saja, agar tidak hanya itu-itu saya yang menjadi pilihan Nala. Maka, dalam proses memilih dilakukan penyesuaian terlebih dahulu, misalnya meminta Nala memilih dari 5  baju yang ada.

Urusan baju ini, menjadikan Nala memiliki seleranya sendiri, ini mulai terlihat ketika kami mengajak Nala belanja baju.  Ternyata Nala bisa dengan cekatan memilih baju yang ia rasa sesuai dengan dirinya. Mengambil baju yang sesuai, dan kemudian mencoba melakukan pas badan sembari bercermin. Tentu saya kaget awalnya karena usia Nala baru 18 bulan, namun saya sadar, ini adalah buah dari berlatih menentukan pilihan yang selama ini kami lakukan.

Kesimpulan Cara Agar Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab

Tentu saja tiga cara yang saya catat tersebut masih sangat kurang. Ada berbagai cara lain yang juga tellah banyak digunakan oleh orang tua dalam mengasuh anak. Namun, tiga cara di atas, saya kira bisa menjadi dasar dalam upaya membiasakan diri menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

Setiap orang tua tentu juga memiliki cara yang berbeda. Oleh karena itu, saya sangat beruntung jika sahabat sekalian juga mau menambahkan di kolom komentar terkait pengalaman sahabat sekalian.

Terima kasih telah membaca tips parenting kali ini mengenai; Cara Agar Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi referensi kita bersama dalam menjalankan peran parenting ayah.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai di sini, terima kasih sudah membaca. Salam

More Stories
Roboguru Solusi Menemukan Jawaban Dari Pertanyaan Sulit
Roboguru Solusi Menemukan Jawaban Dari Pertanyaan Sulit