Tips Parenting Cara Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Cara Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Menjadiayah.com Saya dan sahabat pembaca tentu menginginkan anak yang sehat, cerdas, sekaligus santun dan berperilaku baik. Dengan kata lain kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi dengan karakter positif. Ini adalah idaman semua orang tua, namun apakah orang tua tahu cara membentuk karakter positif pada anak?

Pertanyaan yang sama tentu berlaku untuk saya. Tempo hari seorang teman berkunjung ke rumah, ia mengomentari cara Nala memperlakukan teman sebayanya. Bagi dia Nala memiliki karakter positif yang akan sangat berguna ketika dewasa nanti.

Saya lantas tertarik untuk mengetahui apa itu karakter positif pada anak, dan bagaimana ia melakukan penilaian pada Nala. Maka, terjadilah tukar pikir, yang saya bisa bilang lebih banyak saya yang mendapatkan ilmu dari sahabat saya ini perihal tips parenting ayah kali ini.

Seperti apa tips parenting ayah perihal membentuk karakter positif pada anak? Dalam kesempatan ini saya akan membagikan kepada sahabat sekalian, tidak hanya dari hasil obrolan saya dengan sahabat saya, namun juga dari berbagai sumber bacaan yang telah saya rangkum. Berikut catatan saya:

Setiap Ayah Ingin Memiliki Anak Hebat; Memiliki Karakter Positif

Setiap Ayah Ingin Memiliki Anak Hebat; Memiliki Karakter Positif

Salah satu wujud kebanggaan seorang lelaki adalah anak keturunannya! Bagi saya sendiri, saya merasa menjadi memiliki gairah hidup yang lebih sejak saya dikaruniai Nalaveda, ada harapan besar yang kemudian saya lihat akan terwujud pada Nala.

Walau saya sadar betul, Nala memiliki hak dan dunia sendiri. Harapan-harapan saya pada Nala mungkin akan terkikis seiring tumbuh kembang Nala. Ini soal lain, namun ada persoalan penting yaitu bagaimana saya bisa membersamai tumbuh kembang Nala. Apa pun pilihan Nala nanti, setidaknya saya harus memberikan yang terbaik untuk ia bisa memilih.

Karena setiap ayah ingin memiliki anak hebat! Maka menjadi penting peran ayah dalam parenting. Namun pada kenyataannya, untuk bisa mengasuh, mendidik dan membentuk anak untuk berkarakter positif bukanlah hal yang mudah. Terlebih bagi seorang ayah!

Ayah harus memiliki kesabaran dan ketelatenan dalam menjalankan peran parenting ayah. Lebih lagi adalah kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam membimbing anak, dan yang paling penting adalah kesadaran untuk menjadi teladan bagi anak dan istri.

Sebagai seorang ayah, kita paham bahwa membesarkan dan mendidik anak bukanlah perkara mudah. Kekeliruan orang tua apa lagi seorang ayah dalam menerapkan pola asuh dapat memengaruhi perilaku anak di kemudian hari.

Maka, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk mempelajari prinsip dasar dari parenting yang benar agar bisa membentuk karakter positif pada anak. Dan ini tidak bisa instan, kita perlu belajar setiap hari, seiring dengan tumbuh kembang anak-anak kita.

Kita sering mendengar bahwa anak bagaikan kertas putih kosong yang bisa dihiasi dengan coretan atau tulisan. Nah, coretan dan tulisan seperti apa yang akan kita torehkan dalam kertas kosong tersebut? Coretan dan tulisan ini bisa menjadi dasar dari warna-warni karakter positif anak kita nantinya, jadi semua itu tergantung pada kita sebagai orang tua.

Lalu apa yang dimaksud dengan karakter positif atau karakter yang baik?

Lalu apa yang dimaksud dengan karakter positif atau karakter yang baik

Karakter positif adalah sikap dan perilaku baik yang dapat diterima dan sesuai dengan nilai budaya, agama dan norma masyarakat. Karakter positif ini bersifat universal (dapat diterima di berbagai budaya dan belahan dunia), mencakup cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak, yang mana semuanya sejalan.

Menurut Amirulloh Syarbini, dalam bukunya Pintar Pendidikan Karakter, menyatakan kata karakter berasal dari bahasa Inggris, karakter (character) yang berarti a distinctive differentiating mark, tanda atau sifat yang membeda-kan seseorang dengan orang lain.

Pengertian karakter dalam Kamus Psikologi kata “karakter” yang berarti sifat, karakter, dan watak memiliki beberapa makna; (1). Satu kualitas atau sifat yang tetap dan terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi, suatu objek atau kejadian, (2). Integrasi atau sintesa dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu unitas atau kesatuan, (3). Kepribadian seseorang dipertimbangkan dari titik pandang etis dan moral.

Dalam setiap masyarakat, ada tatanan dan nilai atau norma yang mengatur apa yang mereka anggap baik atau buruk. Kemudian juga ada nilai agama dan budaya yang mendukung dari anggapan baik dan buruk tersebut. Maka, dapat kita artikan bahwa karakter positif adalah sikap dan perilaku baik yang dapat diterima dan sesuai dengan nilai budaya, agama dan norma masyarakat.

Nah, ada beberapa sifat karakter positif yang secara universal memiliki kesamaan dalam berbagai masyarakat lintas budaya. Sifat karakter positif tersebut di antaranya:

  1. Bersifat universal (dapat diterima di berbagai budaya)
  2. Mencakup cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak (semuanya harus sejalan)
  3. Hasil dari pembiasaan/habituation (tidak cukup diajarkan saja)
  4. Perlu dikenalkan, dilatih, dibiasakan
  5. Membutuhkan waktu untuk berhasil  dan tertanam pada anak

Maka, untuk membentuk atau membangun karakter positif pada anak kita sebagai orang tua perlu melakukan serangkaian upaya terencana dan sungguh-sungguh. Upaya ini biasa kita kenal dengan pendidikan karakter.

Pola Asuh Untuk Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Pola Asuh Untuk Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Kunci karakter positif pada anak ada pada orang tua. Maka, kembali lagi pada kita masing-masing untuk melakukan evaluasi, apakah pola asuh yang baik telah kita terapkan? Karena dengan pola asuh yang baik ini akan membantu menumbuhkan rasa kepedulian, kejujuran, kemandirian, dan keceriaan pada anak-anak kita.

Dalam tumbuh kembang anak, sampai kemudian mereka besar dan beranjak dewasa nanti. Model pengasuhan yang baik atau positif ini juga dapat mendukung kecerdasan anak dan melindungi anak dari rasa cemas, depresi, pergaulan bebas, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba.

Selain itu, adanya pola asuh yang positif mampu mengurangi risiko anak mengalami gangguan perilaku. Apa lagi dengan perubahan zaman yang semakin terbuka, yang juga semakin asing dalam sisi kemanusiaan, karena berbagai penemuan yang kemudian lebih cenderung menomor satukan teknologi.

Pada dasarnya prinsip utama pola asuh yang baik adalah dengan membesarkan dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sekaligus mendukung, membimbing, dan menjadi teman yang menyenangkan bagi mereka.

Nah, dari obrolan saya dengan sahabat saya dan berbagai sumber referensi, setidaknya ada beberapa Tips Parenting Cara Membentuk Karakter Positif Pada Anak yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja? Berikut ulasannya untuk sahabat sekalian!

1. Menjadi Panutan Bagi Anak

Menjadi Panutan Bagi Anak

Cara membentuk karakter positif pada anak adalah dengan menjadi panutan bagi mereka. Lebih khusus lagi kita sebagai seorang ayah, menjadi ayah adalah menjadi panutan bagi anak dan keluarga. Maka, karena anak cenderung meniru apa yang orang tuanya lakukan, menjadi panutan yang baik bagi anak adalah salah satu cara mendidik anak yang sangat penting.

Sebagai contoh, ketika saya ingin menanamkan karakter positif pada anak, maka yang bisa saya lakukan adalah dengan memberi contoh pada mereka, sesederhana selalu berkata jujur, berperilaku baik dan santun terhadap orang lain, serta membantu orang lain tanpa mengharap imbalan atau pamprih.

Kita juga bisa menunjukkan kepada anak bagaimana cara hidup sehat, misalnya dengan kita mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari, menyikat gigi setelah makan dan menjelang tidur, memiliki aktivitas olahraga, atau sesederhana membuang sampah pada tempatnya.

Berbagai kegiatan sehari-hari orang tua tidak lepas dari perhatian anak. Apa yang kita ingin terapkan pada anak-anak kita, maka terlebih dahulu kita mampu terapkan pada diri kita. Sebagai seorang muslim misalnya, jika ingin anak rajin beribadah di Masjid, ya sejak dini kita harus membiasakan anak turut serta bersama kita beribadah jamaah di Masjid.

2. Tidak Memanjakan Anak Secara Berlebihan

Tidak Memanjakan Anak Secara Berlebihan

Kecenderungan kita sebagai orang tua adalah ingin memberikan segalanya untuk anak-anak kita. Sering kali kita tanpa sadar selalu menuruti kemauan mereka. Ternyata hal ini bisa memberikan dampak kurang baik pada perkembangan karakter anak, alias mereka bisa menjadi anak yang manja dan terhambat untuk bisa mandiri dan percaya diri.

Maka, ini menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk menghentikan kebiasaan memanjakan anak secara berlebih, sekaligus untuk memberi pembelajaran pada anak agar mereka tidak terlalu tergantung pada orang tua. Tentu semua kita lakukan dengan perlahan.

Misalnya, kita jangan selalu menuruti kemauan anak ketika mereka menangis atau tantrum karena ingin menonton televisi saat waktunya tidur malam. Atau ketika anak meminta dibelikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, atau ketika anak merengek untuk bermain gadget.

Kita harus memiliki batasan-batasan, ketika anak salah kita harus mengatakan itu salah, jangan selalu membela anak atas kesalahan mereka, ini demi mendisiplinkan anak agar bisa mandiri nantinya. Namun, jangan pula memarahi anak atau bahkan memukulnya ketika mereka berbuat kesalahan. Cobalah menegurnya dengan lembut namun tegas ketika anak berbuat salah dan berikan pemahaman kepadanya.

Mungkin akan sulit, apa lagi bagi orang tua yang selama ini memanjakan anak-anaknya. Namun, ini semua merupakan salah satu bentuk kasih sayang orang tua, agar kelak anak memiliki karakter positif. Dan jangan lupa untuk selalu memberikan pujian ketika anak-anak melakukan hal yang baik. Pujian akan memotivasi anak-anak kita menjadi pribadi positif yang lebih baik lagi.

3. Miliki Waktu Khusus Bersama Anak dan Keluarga

Miliki Waktu Khusus Bersama Anak dan Keluarga

Saya sering membahas perihal pentingnya waktu bersama anak dan keluarga. Pada dasarnya anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya, karena orang tua sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, menjadikan terciptanya jarak antara orang tua dan anak.

Jika tidak ada waktu bersama anak secara terus menerus, maka anak akan merasa tidak memiliki keberadaan orang tua, mereka akan merasa terabaikan. Lebih jauh, mereka tentu tidak punya gambaran seperti apa rasanya kebersamaan keluarga.

Orang tua yang sibuk dan tidak menyediakan waktu bersama anak, tentu akan kehilangan banyak momen istimewa dalam tumbuh kembang anak. Pada akhirnya, karena tidak ada pengawasan, anak bisa melakukan tindakan tidak baik atau berkelakuan buruk. Yang mana mereka melakukan tindakan tersebut untuk mendapatkan perhatian dari orang tua.

Oleh karena itu, cara membentuk karakter positif pada anak adalah dengan memiliki waktu khusus bersama anak dan keluarga. Kita sebagai seorang ayah, sesibuk apa pun, harus bisa selalu meluangkan waktu untuk terlibat dalam kehidupan anak.

Namun kita juga perlu mencatat, bahwa melibatkan diri dalam kehidupan anak bukan berarti Anda harus terus-menerus berada di samping mereka. Ada kalanya kita memberi ruang untuk mereka sendiri, dan membiarkan mereka memulai menuliskan cerita dan ekspresi atas dunia mereka. Ini untuk kemandirian mereka juga.

Waktu keluarga sesederhana, luangkan waktu untuk menjalin hubungan dan kegiatan berkualitas, seperti sarapan bersama, mengantarnya ke sekolah, datang ke setiap acara yang dilakukan anak, atau sebatas berbincang sebelum tidur mengenai kegiatan yang dilakukannya seharian.

Perihal meluangkan waktu ini, memang mungkin tidak semua ayah bisa memiliki. Sebagai seorang ayah, kita mungkin berada dalam jarak yang berbeda dengan keluarga karena alasan pekerjaan. Beruntung saat ini ada teknologi komunikasi. Maka luangkan waktu untuk selalu berkomunikasi melalui telepon atau panggilan video bersama anak dan keluarga.

4. Bantu Anak Menjadi Pribadi Yang Mandiri

Bantu Anak Menjadi Pribadi Yang Mandiri

Cara agar anak memiliki karakter positif adalah dengan membantu mereka menjadi pribadi yang mandiri. Paling sederhana yaitu dengan memberikan anak kepercayaan, kesempatan, dan apresiasi atas apa yang mereka pilih dan lakukan.

Contohnya, untuk anak usia balita seperti Nala, saya dan istri mulai mengajarkan untuk merapikan mainannya, meletakkan sepatu/sandal pada tempatnya, membuang sampah pada tempatnya. Tentu saja tidak selalu berhasil, lebih sering ‘main-main’ namun upaya ini terus saya lakukan sebagai upaya membiasakan anak melakukan segala sesuatu sendiri.

Jika kemudian Nala berhasil meletakkan mainan pada tempatnya, maka akan saya beri apresiasi, mungkin sesederhana tepuk tangan. Jika ternyata keliru tempatnya, saya pun apresiasi dengan mengajak bicara mengapa Nala meletakkan pada tempat yang lain. Ini sangat menyenangkan bagi saya.

Kelak ketika anak memasuki masa remaja, kita sebagai orang tua juga harus terus mendukung dan membantu anak untuk menyelesaikan masalah pribadi mereka. Tentu saja caranya dengan menjalin komunikasi yang baik, agar anak mau berdiskusi dan mau berbagi persoalan, sehingga kita bisa menemukan solusi bersama.

Kita tahu bahwa menjadi mandiri tidak mudah bagi anak-anak. Karenanya, buat itu menjadi kebiasaan secara pelan-pelan. Jangan pernah memaksakan pada anak untuk mandiri.  Beri apresiasi setiap usaha dan keberhasilan anak. Ini akan sangat berarti bagi perkembangan mereka.

Siapa lagi yang bisa mengapresiasi anak-anak kita, selain kita sebagai orang tua mereka. Namun ingat, saat mereka gagal atau berbuat salah, jangan pernah mengejek, apalagi membandingkan mereka dengan anak-anak lain. Tidak ada orang yang suka dibanding-bandingkan!

5. Membuat Peraturan Bersama Dengan Alasan Yang Jelas

Membuat Peraturan Bersama Dengan Alasan Yang Jelas

Karakter positif memiliki kebalikan yaitu karakter negatif.  Maka, agar anak terbiasa dan tumbuh dalam karakter yang positif, orang tua pun perlu mengidentifikasi apa-apa saja karakter negatif yang mungkin ada pada anak-anak kita.

Nah, untuk menghindari munculnya karakter negatif, maka kita perlu membuat peraturan bersama dengan alasan yang jelas mengapa peraturan tersebut harus kita patuhi. Peraturan ini harus kita susun bersama anggota keluarga, jika anak sudah mampu memberi saran, maka libatkan mereka dalam membuat aturan ini.

Dengan kita menerapkan peraturan bersama, maka bisa membantu anak untuk belajar mengendalikan diri dan membedakan perilaku baik dan buruk. Contohnya, menggunakan listrik seperlunya untuk menghemat biaya, tidak berlebihan dalam menggunakan gadget atau gawai karena tidak baik untuk kesehatan, atau tidak menonton TV pada jam belajar, dan lain sebagainya.

Dalam peraturan ini, juga berlaku bagi kita sebagai orang tua. Jika kita sebagai orang tua melanggar maka kita harus menyadari kita pantas mendapatkan sanksi. Karena apa? Kita yang akan anak-anak lihat sebagai teladan. Jangan sampai kita melanggar peraturan dan juga melanggar perjanjian sekaligus.

Maka, kita harus memastikan untuk selalu konsisten dalam menerapkan peraturan yang telah kita buat bersama. Jika kita tidak konsisten, sudah pasti anak akan merasa bingung dan mungkin akan meremehkan peraturan bersama. Jika sudah demikian, bukan karakter positif yang tumbuh, justru sebaliknya.

6. Lakukan Dengan Konsisten

Lakukan Dengan Konsisten

Semua cara membentuk karakter positif pada anak yang telah kita bahas membutuhkan yang namanya konsisten. Jika kita hanya setengah-setengah, atau melakukan dengan sesuka hati, maka hasilnya pun tidak akan maksimal.

Konsisten menerapkan prinsip pola asuh memang bukanlah hal yang mudah. Setiap orang tua juga memiliki keterbatasan, baik soal waktu maupun tenaga. Maka, kita bisa memulai dengan fokus pada hal yang paling perlu diperhatikan terlebih dahulu. Tidak harus semua secara bersamaan, namun bertahap waktu demi waktu.

Nah, bagi orang tua yang memiliki pengasuh anak paruh waktu (babysitter) maka usahakan mereka paham akan tujuan kita dalam parenting. Dengan adanya kesepahaman maka pola asuh akan sesuai. Anak menjadi tidak bingung antara aturan atau pola asuh orang tua dan pengasuhnya.

Kesimpulan Cara Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Kesimpulan Cara Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Setiap dari kita tentu ingin memiliki anak dengan karakter positif, jangan jadikan keinginan hanya sebatas keinginan, namun mari kita wujudkan bersama-sama.  Tugas besar kita sebagai orang tua untuk bisa memberikan yang terbaik dalam tumbuh kembang anak-anak kita.

Sebagai seorang ayah, ada peran besar dalam perkembangan anak-anak kita. Peran pengasuhan sekali lagi bukan hanya peran istri atau ibu, namun juga ayah. Menjadi ayah adalah upaya menjadi pemimpin, imam, suami, ayah, sekaligus sahabat bagi seluruh anggota keluarga.

Menjadi ayah yang hebat, menjadi ayah terbaik, membutuhkan waktu! Tidak mudah memang. Berbagai kendala mungkin akan kita rasakan. Seperti harus terpisah jarak dan waktu demi pekerjaan saat ini, yang tidak lain hasilnya untuk keluarga. Lalu minimnya sumber referensi atau pendidikan parenting ayah.

Perjuangan ayah dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga ini yang ingin sekali saya terus bisa catat dalam blog menjadiayah.com ini. Karena memang masih sangat sedikit referensi atau blog parenting ayah, padahal sangat penting agar ayah bisa menjalin hubungan dengan anak secara baik.

Terima kasih telah membaca tips parenting kali ini mengenai; Cara Membentuk Karakter Positif Pada Anak. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi referensi kita bersama dalam menjalankan peran parenting ayah.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai di sini, terima kasih sudah membaca. Salam

More Stories
Nala Menyelamatkan Ayah Potong Rambut
Nala Menyelamatkan Ayah Potong Rambut