Ketakutan Menjadi Ayah Yang Tidak Hadir

Ketakutan Menjadi Ayah Yang Tidak Hadir

Salah satu ketakutan menjadi ayah yang  sampai hari ini masih menjadi selimut dan muncul dalam bentuk pertanyaan menjelang tidur adalah; Apakah saya tipe orang tua yang baik? Apakah saya ayah yang hadir untuk anak saya? Ataukah saya telah menjadi ayah yang tidak hadir? Ketika pertanyaan itu datang, di samping kanan saya Nalaveda dan Ibunya telah tidur, menelusuri alam mimpi masing-masing.

Sebagai seorang Ayah muda, saya bisa bilang begitu selain usia saya yang masih muda, tentu saja karena kenyataannya memang Nala baru merayakan ulang tahun pertamanya 15 Oktober 2020 ini. Maka, valid jika saya mengaku sebagai seorang ayah muda. Seorang lelaki yang sedang belajar menjadi ayah dan suami yang baik, semoga. Dalam tahap belajar ini, tentu saja pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi hantu yang menagih jawaban.

Tentu saja saya tidak langsung mendapatkan jawaban! Namun ada poin-poin yang saya catat dari setiap pergulatan sebelum tidur atas pertanyaan yang masih dan mungkin akan terus hadir sepanjang menjadi ayah. Maka, aku melihat bagaimana pertanyaan ini juga hadir dalam pikiran banyak ayah lain, jauh sebelum hari ini. Tulisan kali ini adalah sedikit upaya saya untuk mencari jawaban atas ketakutan menjadi ayah yang tidak hadir.

Pandangan Umum Perihal Ayah

Pandangan Umum Perihal Ayah

Pertanyaan yang muncul tentang apakah saya adalah ayah yang tidak hadir, tidak terlepas dari pandangan umum perihal ayah. Di masyarakat ayah digambarkan sebagai sosok yang cuek, terkesan tidak peduli atas perkembangan anak-anaknya. Penggambaran sosok ayah adalah seseorang yang menjamin kehidupan anak-anak dan keluarganya, ukurannya adalah materi.

Maka sosok ayah lebih pada sebagai seorang pekerja bukan sebagai pengasuh,  barang kali ini yang melatari saya menuliskan ‘ketakutan menjadi ayah’ pengalaman saya mengasuh anak saya melalui blog menjadiayah.com ini.

Saya mohon maaf, jika pandangan umum yang saya dapatkan perihal ayah keliru atau tidak sesuai dengan kondisi sosial di daerah atau lingkungan sahabat sekalian. Tentu saja tidak ada hal yang 100 % tepat, terlebih kita membicarakan manusia.

Akan ada ayah yang memiliki karakter berbeda, bisa tetap menjadi pekerja dan sekaligus pengasuh bagi anak-anaknya. Namun pandangan paling umum tetap pada poin pertama; ayah yang cuek dan tugas ayah adalah menjalin kecukupan materi.

Masyarakat telah mengamini sebagai tanda setuju, bahwa tugas suami, tugas lelaki, tugas ayah dalam rumah tangga adalah sebagai pencari nafkah, kemudian tugas ibu, istri atau perempuan adalah mengurus anak-anak. Pandangan yang dalam buku kartun peradaban terjadi sejak tahun 2000 SM, dan langgeng sampai saat ini.

Jika saya kemudian bertanya, apakah benar pembagian tugas tersebut? Diskusi perihal ini akan memakan waktu yang lama, dan menimbulkan banyak alternatif jawaban. Tapi bagi saya yang pasti, urusan rumah tangga adalah urusan kesepakatan dengan pasangan. Kemudian, urusan mengasuh, kehadiran orang tua kepada anaknya adalah urusan kita memilih menjadi orang tua yang seperti apa untuk anak-anak kita.

Melihat Sisi Ketidakhadiran Seorang Ayah

Melihat Sisi Ketidakhadiran Seorang Ayah

Saya beruntung memiliki seorang senior semasa sekolah dulu, yang mau berbagi pengalaman menjadi ayah dan mengasuh anak. Menurutnya pengalaman mengasuh anak akan berbeda bagi setiap ayah, dan pengalaman yang ia bagikan adalah pengalaman ketika ia ‘belum hadir’ dan merasakan ketakutan menjadi ayah untuk anak-anaknya.

Pekerjaan menjadi salah satu hal yang ‘memaksa’ kondisi saat itu untuk meninggalkan keluarga. Ini tidak mudah, dan tidak semua orang bisa mengambil pilihan terbaik, karena sisi pilihan terbaik tentu berbeda-beda. Maka, teman saya ini merasakan betul bagaimana ia merasa menjadi ayah yang tidak hadir untuk anak-anaknya!

Ayah tidak hadir dalam perkembangan perilaku anak

Ayah menuntut anak-anaknya memiliki perilaku yang baik, namun tidak memberikan contoh bagaimana perilaku yang baik itu, maka omong kosong. Tidak sedikit orang tua yang menyerahkan urusan perilaku kepada sekolah, atau meyakini 100% bahwa perilaku sudah diwariskan dalam gen keturunan.

Ayah tidak hadir untuk mendukung ketertarikan anak

Ayah tidak mengerti apa yang anak inginkan, dukungan ayah selalu pada cita-cita ayah yang tertunda. Meminta anak menjadi ini menjadi itu, tanpa memahami ketertarikan anak dalam bidang apa. Menjadi ayah seperti ini adalah ‘membawa petaka’ bagi masa depan anak.

Ayah tidak memberikan waktu khusus bersama anak

Seorang ayah akan melihat bagaimana anaknya tumbuh kembang dengan pesat, seperti teman saya, tanpa sadar kini anaknya sudah sulit untuk menghabiskan waktu bersama. Padahal dulu anaknya selalu menanyakan kepulangan ayahnya. Waktu berlalu begitu cepat, dan kadang kita menjadi menyesal telah melewatkan perkembangan anak yang begitu berharga.

Ayah mengukur kehadiran berdasarkan materi

Tetapi tidak sedikit ayah yang benar-benar tidak hadir, bukan hanya karena merasa kehadirannya telah terwakili melalui memberi nafkah, namun seperti pengalaman teman saya ia tidak hadir karena memang saat itu tidak paham, jika anak butuh lebih dari sekedar materi.

Mencari Jalan Keluar Ketakutan Menjadi Ayah

Mencari Jalan Keluar Ketakutan Menjadi Ayah

Banyak hal yang bisa kita jadikan contoh ketidakhadiran seorang ayah kepada anak-anaknya. Di atas hanyalah sebagian kecil dari pengalaman yang seorang teman. Kita bisa lebih banyak lagi mencari apa saja hal yang menjadi ciri ayah tidak hadir kepada anak-anaknya.

Untuk menjawab dan mendapatkan jalan keluar dari ketakutan menjadi ayah yang tidak hadir, pertama tentu saja kita bisa menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk salah satu dari poin-poin ketidakhadiran yang telah kita sebutkan di atas, atau sebaliknya.

Saya sering kali merasa tidak hadir untuk Nala, karena kesibukan! Ketika pergi pagi dan pulang larut malam demi pekerjaan. Saya sadar betul  waktu saya dengan Nala sangat terbatas, ketika pagi tidak lebih satu jam, kemudian ketika pulang Nala sudah terlelap. Ini menyakitkan! Perihal pekerjaan adalah pilihan yang sulit, saya sedang mencari jalan keluar untuk ini. Perihal solusi pekerjaan yang saya ambil, pada lain tulisan akan saya bagikan!

Apa yang Nala Ingin dan butuhkan?

Menjadi ayah yang hadir adalah dengan memahami apa yang anak kita ingin dan butuhkan. Keinginan anak bisa saja tidak selalu sejalan, dan tidak selalu harus terpenuhi, namun orang tua harus paham dan bisa membedakan mana yang harus terpenuhi dan tidak. Bagi saya terpenting adalah kebutuhan anak, yang mana kebutuhan ini tidak disadari oleh anak-anak kita.

Usia Nala masih terlalu dini untuk ia paham keinginan dan kebutuhan. Maka saya dan istri yang mencari tahu dari setiap perkembangan Nala. Kebutuhan materi tentu saja sudah masuk dalam rencana keuangan harian dan bulanan.

Tapi bagaimana dengan kebutuhan batin, tumbuh kembang, panutan, sesuatu yang tidak bisa kita wakilkan kepada orang lain. Kebutuhan akan kehadiran orang tua, kebutuhan akan bahasa kasih sayang, Nala membutuhkan itu, saat ini dan nanti.

Ada hal yang harus kita korbankan untuk memenuhi kebutuhan anak! Saya teringat nasihat ayah saya sendiri; “Bekerja untuk meringankan laku anak itu benar, namun jika pekerjaanmu menjadikan laku anakmu tidak benar, maka kamu sedang menciptakan beban kerja yang jauh lebih berat di masa mendatang.”

Apa artinya? Kita bekerja mencari materi untuk anak-anak kita agar kehidupan mereka lebih baik, namun jika mereka meneladani kita yang  hanya ‘sibuk kerja’ maka mereka akan menjadi beban kita di masa mendatang, karena perilaku mereka yang bisa jadi ‘tidak baik’.

Mendiskusikan Ketakutan Menjadi Ayah Dengan Istri

Istri adalah rekan utama saya dalam berumah tangga, komitmen yang telah kami bangun bersama jauh hari bisa saja mengalami berbagai perubahan. Setelah menikah kita akan mendapati berbagai tantangan dan hal baru, yang tentu saja tidak seindah ketika merencanakannya.  Mendiskusikan kembali berbagai hal dengan istri adalah jalan keluar terbaik.

Anak bukan semata harapan seorang ayah, namun juga harapan seorang ibu, harapan bersama. Saya paham jika saat ini yang banyak berperan untuk Nala adalah Ibunya, saya masih sangat jauh untuk menjadi ayah yang baik. Memberikan Nala teladan, memberikan Nala waktu, dan membersamai tumbuh kembangnya adalah kewajiban yang harus saya tunaikan sebagai seorang ayah dan suami.

Maka dengan mendiskusikan keresahan yang saya alami, setidaknya istri paham jika ada upaya yang sedang dilakukan seorang suami untuk keluarganya, tidak sekedar materi, namun sesuatu yang lebih dari itu. Melalui membicarakan keresahan, pada akhirnya saya paham jika ketakutan menjadi ayah tidak hanya dialami oleh saya sendiri, namun istri pun sering berpikir, apakah telah menjadi Ibu yang hadir untuk Nala?

Terima kasih telah membaca catatan saya tentang Ketakutan Menjadi Ayah Yang Tidak Hadir. Jika sahabat sekalian memiliki pengalaman yang sama, mari berbagi untuk ayah dan ibu yang lain. Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai disini, terima kasih sudah membaca. Salam.

Ayah Nala – menjadiayah.com Yogyakarta, 27 Oktober 2020.

More Stories
Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri
Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri