Ketika Anak Mulai Memahami Kesibukan Orang Tua

Menjadiayah.com Sebagian besar orang tua pasti pernah merasakan kondisi di mana anak tidak mau pisah, maunya selalu bersama. Ini, sering terjadi ketika orang tua akan berangkat kerja. Anak akan merajuk, atau memaksa untuk ikut.

Saya baru merasakan hal ini, anak perempuan saya, Nala, mulai memahami kepergian saya. Memang saya cukup beruntung karena bekerja sebagai freelancer, namun bukan berati selalu bisa mengerjakan segala sesuatu dari rumah. Sering-sering juga harus ke luar, mengerjakan projek lapangan, sesuai dengan tipe pekerjaan dan bagaimana kondisi.

Nah, minggu lalu, saya mendapatkan pekerjaan untuk menggarap sebuah video pembelajaran berbasis dokumenter. Pekerjaan ini, mewajibkan saya untuk langsung melakukan pengambilan video di lapangan. Saya dan tim memerlukan waktu setidaknya 4 hari penuh untuk mendapatkan keseluruhan materi video.

Jika sebelumnya saya hanya mengerjakan editing dan membuat skenario. Yang mana pekerjaan ini bisa saya garap dari rumah. Maka, ketika harus mengambil materi video secara langsung karena kendala penghematan anggaran dan juga tim yang kian ramping karena pandemi. Jadilah saya bekerja sejak mata hari belum terbit, sampai akan berganti hari lagi.

Memang pekerjaan yang cukup kejar tayang. Ada banyak faktor sebenarnya. Misalnya kesediaan nara sumber, juga penghematan pada sewa peralatan yang dihitung secara harian. Hehe. Maklum, peralatan videografi saya sudah terlalu jadul, sehingga tidak relevan lagi.

Nala, merasakan betul ketidak hadiran saya di rumah. Saya berangkat ketika Nala madih tidur, dan pulang Nala sudah kembali terlelap. Ini pengalaman pertama bagi saya dan Nala. Terlebih, selama 4 hari benar-benar terkuras, sehingga tidak berkesempatan untuk video call.

Ketika pekerjaan selesai, dan saya kembali rutinitas dari rumah. Nala seketika bertanya perihal ke mana saja saya beberapa hari terakhir. Tentu dengan kosa kata Nala yang masih terbatas.

Sebisa mungkin saya memberi pengetahuan mengenai apa yang saya kerjakan. Kenapa ayah tidak Nala lihat selama beberapa hari terakhir. Ia hanya diam, lalu mengalihkan ke mainannya lagi. Saya juga turut bermain.

Berganti hari, ketika saya harus ke luar rumah untuk bertemu calon klien, ketika saya hendak pamit sebentar, Nala tiba-tiba berkata, “Di sini aja, sama Nala, kerja Ayahbsama Nala! ” Seketika saya mak tratap, duh kok anak perempuan saya sudah tahu perihal waktu untuk kerja?

Saya melirik Wanti, istri saya, rupanya ia pelan-pelan mulai memberikan pengertian pada Nala ketika selama 4 hari saya tidak terlihat oleh Nala. Kini, anak perempuan saya itu sudah tahu jika ayah tidak di rumah atau pamit, maka ayah sedang bekerja.

Perihal, apakah Nala sudah tahu makna kerja itu seperti apa. Tentu saja, gambarannya masih sangat sederhana. Kerja adalah ke luar rumah tanpa mengajak Nala. Kerja adalah ketika ayah ke pamit ke luar, dan Nala tidak ikut.

Pada detik ini, saya merasa betapa begitu cepatnya tumbuh kembang Nala. Rasanya baru kemarin merayakan ulang tahun yang pertama. Rasanya juga baru kemarin sekali tangis bayi merah itu pecah membanjirkan air mata.

Saya menerawang ke beberapa tahun mendatang. Kelak ketika Nalan muali meminta pamit karena kesibukkanya, dan pada moment itu saya yang barang kali akan menahan agar ia tetap di rumah. Atau bahkan merengek untuk bisa terus mengantarkan ia dalam berbagai aktivitas.

Duh, rasanya akan begitu berat ketika kelak mulai harus membiarkan Nala memasuki dunianya sendiri. Namun kiranya demikian laku dunia, demikian adanya laku manusia. Jika sudah demikian, rasanya begitu tepat apa yang dituliskan oleh Khalil Gibran.

Anakmu Bukanlah Milikmu – Khalil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian, Dia merentangkanmu dengan kuasaNya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Menjadiayah memang bukanlah hal yang mudah. Tegar dan rapuh dapat terjadi dalam detik yang sama. Namun begitulah laku yang harus kita lalui. Bagaimana dengan sahabat pembaca? Terima kasih telah berkunjung. Salam. Ayah Nala.

More Stories
Tarawih Pertama Dunia Nala
Nala dan Salat Tarawih Pertama