Ketika Nala Meludah Sembarangan

Ketika Nala Meludah Sembarangan

Menjadiayah.com Apa yang kita harapkan kepada anak-anak kita? Maka, itulah kiranya yang perlu kita ajarkan dan jalankan dalam kehidupan berkeluarga.

Menjadi ayah, adalah bagaimana kita mampu menjadi panutan bagi anak-anak kita. Saya memiliki anak perempuan, sebagian dari pembaca mungkin sudah mengetahui. Nalaveda, anak perempuan saya. Saat ini berusia 18 bulan.

Tumbuh kembang Nala begitu cepat. Saya kira ini adalah waktu-waktu penting bagi ia untuk mengambil banyak data. Memahami lingkungan, meniru tindak-tanduk orang sekitar, dan tentu saja memfotocopy setiap apa yang saya dan istri lakukan.

Kehati-hatian menjadi penting. Tentu dalam banyak hal. Bahkan dalam hal yang sederhana, seperti; menjawab pertanyaan, meminta tolong, terkejut, dan lain sebagainya.

Anak perempuan saya ini akan dengan mudah meniru hal-hal yang sebaiknya memang tidak ia lakukan. Pernah pada suatu pagi, saya tidak melihat bahwa ia sedang bermain dengan mamanya di samping rumah, saya yang dari dalam ingin meludah, lantas meludahlah saya ke bagian kebun.

Apa yang terjadi kemudian? Nalaveda merekam itu dengan sempurna. Setiap kali Nala saya ajak ke samping, ia akan meludah ke arah kebun. Saya tentu berusaha untuk memberi penjelasan perihal meludah ini pelan-pelan.

Nalaveda terlanjut bisa meludah. Dan tidak dapat kita cegah begitu saja, kadang meludah di sembarang tempat. Nala menilai meludah itu permainan, kegiatan yang menyenangkan. Ini menjadi pekerjaan saya dan istri. Saya paham betul kekeliruan ada pada saya.

Namun pelan-pelan kami memberikan berbagai masukan perihal meludah sembarangan. Saya pun menjadi tidak berani lagi. Kini jika harus meludah paling aman ya ke kamar mandi. Juga berbagai hal lain, yang Nala sebaiknya belum melihat / meniru.

Memang tidak mudah menjadi panutan bagi anak. Terlebih anak perempuan dalam kehidupan masyarakat kita. Saya tidak dapat menutupi masih ada berbagai hal yang menjadi sekat pembeda untuk anak perempuan.

Hal-hal baik yang oleh masyarakat harus melekat pada anak perempuan. Kemudian anak perempuan jangan begini, jangan begitu. Atau kebalikannya, ada hal-hal yang dianggap wajar ketika dikerjakan oleh anak laki-laki.

Pada Nalaveda, saya tidak ingin mempertebal sekat semacam ini. Saya ingin ia tumbuh merdeka, menjadi apa adanya dirinya. Apa yang ia lakukan adalah berdasarkan hatinya, berdasarkan pertimbangan dan tanggung jawab.

Sahabat pembaca, seperti apa dunia anak-anak sahabat sekalian? Apakkah sama seperti yang saya rasakan? Boleh kita saling berbagi cerita di kolom komentar. Terima kasih telah membaca. Salam. Ayah Nala!

More Stories
Cara Mengasah Kreativitas Anak
Bagaimana Cara Mengasah Kreativitas Anak