Memperkenalkan Permainan Tradisional Kepada Anak

Memperkenalkan Permainan Tradisional Kepada Anak

Saat ini permainan tradisional menjadi sesuatu yang asing bagi anak-anak, tidak lain karena mereka tidak mengetahui, tidak pernah melihat adanya permainan tradisional dalam lingkungan mereka.

Anak saya Nala juga merasakan hal yang sama. Namun saya masih sedikit beruntung karena  tinggal dalam lingkungan yang masih banyak terjadi interaksi sosial, sehingga bisa menginisiasi untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di lingkungan.

Tujuan dalam memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggal, selain untuk memperkenalkan kepada Nala  secara khusus juga agar ada kegiatan yang melibatkan gerak fisik. Sesuatu yang dulu menjadi kesenangan saya dan mungkin juga masa kecil sahabat pembaca sekalian.

Manfaat Permainan Tradisional

Manfaat Permainan Tradisional
Ilustrasi www.imaos.id

Terdapat berbagai manfaat dalam permainan tradisional bagi anak-anak. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan Intuisi

Permainan tradisional, selain sangat seru karena permainannya secara langsung juga dapat mengasah atau meningkatkan intuisi anak.

Anak-anak akan menjadi terpacu untuk mengasah atau mencari strategi dalam menjalankan permainan. Menyusun strategi agar dapat  memecahkan level permainan atau memenangkan permainan.

Sebagai contoh ketika saya memainkan permainan bola bekel bersama anak-anak di lingkungan saya. Mereka sangat antusias, pertama karena belum tahu cara bermainannya, sehingga sangat ingin memainkan.

Ketika mereka sudah memahami cara bermainnya, mereka pun menjadikan permainan ini sebagai ‘adu’ strategi agar bisa  memecahkan atau melalui setiap level dan tentu saja bisa memenangkan permainan.

2. Melatih Kreativitas Anak

Permainan tradisional  akan menjadikan anak lebih kreatif.  Dalam  satu permainan terdapat berbagai variasi permainan, yang mana  aturan dan cara bermain bisa dibuat atau disepakati bersama.

Dengan adanya model membuat aturan dan cara bermain yang bervariasi ini, maka kreativitas anak menjadi terasah untuk membuat permainan dari bahan atau ketersediaan permainan tradisional.

Misalnya permainan karet gelang, bisa untuk berbagai permainan dari lompat tali, permainan lempar karet, permainan membuat bentuk dari karet menggunakan jari-jari tangan dan lain sebagainya.

3. Stimulasi Motorik

Permainan tradisional juga menjadi stimulus dalam melatih motorik anak. Sebagai contoh dalam permainan bitingan, anak akan berlatih bagaimana ketika melebar biting atau  lidi agar tidak keluar dari garis batas.

Atau ketika akan bermain engklek, anak akan memulai permainan dengan menggambar pola garis permainan, bagaimana garis harus lurus dan presisi. Melalui kegiatan ini juga kita bisa melihat bakat anak-anak kita dalam keterampilan menulis atau menggambar dan membentuk pola.

Pada dasarnya berbagai permainan tradisional yang mana melibatkan gerak langsung, melibatkan berbagai indra akan membantu anak dalam menggunakan atau melakukan koordinasi dari indra mereka.

4. Meningkatkan Hormon Dopamin

Apa yang membuat anak-anak bahagia dan seketika tertawa riang? Salah satunya adalah melompat. Saya mengamati bagaimana Nala akan tertawa bahagia ketika saya atau teman-temannya melompat.

Maka, salah satu manfaat dari permainan tradisional ini adalah membuat bahagia, menghindari anak stres karena adanya aktivitas fisik yang akan meningkatkan hormon dopamin pada anak.

Salah satu permainan yang mendukung adalah lompat tali atau lompat karet. Dengan melakukan aktivitas fisik; melompat, akan membuat otak mengeluarkan hormon dopamin.

5. Menumbuhkan Perasaan Cinta Lingkungan

Permainan yang dilakukan secara langsung, akan memudahkan orang tua dalam mendekatkan anak kepada lingkungan. Baik itu lingkungan pertemanan atau pun lingkungan alam tempat tinggal.

Berbagai permainan yang dilakukan di halaman misalnya akan menjadikan anak-anak saling bersosialisasi dan tidak menjadikan mereka hanya berada dalam rumah dengan berbagai  permainan yang ada.

Anak-anak saat ini lebih banyak dimudahkan dengan permainan digital. Sering kali menjadikan anak kurang aktivitas fisik. Nah, dengan kita memperkenalkan permainan tradisional kepada anak maka anak akan  lebih cinta pada lingkungannya.

Permainan Tradisional dan Cara Bermainnya

Beberapa hari terakhir saya memainkan beberapa permainan tradisional, mulai dari permainan tradisional engklek, congklak, gobak sodor, bermain ular naga panjang, bermain lompat tali, bola bekel sampai bermain lidi-lidian.

Anak-anak lingkungan saya yang bermain bersama saya dan Nala sangat tertarik dengan tiga permainan tradisional yaitu bola bekel, beragam permainan dari karet seperti lompat karet, dan permainan lidi-lidian.

Nah, dalam kesempatan ini saya ingin kembali membagikan bagaimana cara bermain permainan tradisional. Saya sendiri sebenarnya sudah lupa-lupa ingat. Jadi jika ada perbedaan harap maklum ya.

Cara Bermain Permainan Tradisional Bola Bekel:

Permainan ini bisa untuk 2-5 orang pemain dengan cara bermain sebagai berikut:

1. Siapkan bola bekel dan 5 buah biji bekel
2. Pemain melakukan pengundian untuk menentukan urutan bermain
3. Permainan dilakukan dengan mengumpulkan biji bekel setelah bola bekel dilambungkan ke udara, kemudian dilanjutkan dengan mengambil kembali bola setelah satu kali pantulan bola
4. Pada babak pertama, pengumpulan biji bekel dilakukan secara bertingkat. Pada babak pertama, pemain mengambil 1 buah biji bekel pada pantulan bola pertama, mengambil 2 biji bekel pada pantulan bola kedua, dan seterusnya
5. Permainan akan berganti ke pemain berikutnya apabila tidak berhasil mengumpulkan biji bekel pada pantulan bola bekel atau muncul pelanggaran yaitu menyentuh biji bekel lain saat mencoba mengumpulkan biji bekel
6. Pada babak kedua, biji bekel diatur dengan posisi menunjukkan sisi yang sama
7. Pada babak ketiga, biji bekel diatur sama dengan posisi menunjukkan sisi berbeda dari babak kedua
8. Pemenang permainan ini adalah pemain pertama yang berhasil menyelesaikan setiap babak dalam permainan.

Cara Bermain Permainan Tradisional Tali Karet:

Permainan ini bisa untuk oleh 3-5 orang pemain dengan cara bermain sebagai berikut:

1. Ada dua orang yang bertugas sebagai pemegang tali dan lainnya melompati karet.
2. Pemainnya harus melompat tanpa harus menyentuh karet jika pemain menyentuh atau terjerat karet, maka peserta gagal untuk menang dan harus gantian memegang tali.
3. Ketinggian karet dimulai dari pergelangan kaki sampai kepala, bahkan sampai tangan diangkat.

Cara Bermain Malingan/ Lurahan/ Lidi-Lidian:

Permainan ini bisa untuk oleh 2-5 orang pemain dengan cara bermain sebagai berikut:

1. Permainan dimulai dengan menyebarkan kumpulan lidi ke tanah/lantai. Usahakan lidi menyebar dengan teratur, sehingga mudah dalam mengambil lidi. Lidi yang melewati garis pembatas/sebagian besar bagian lidi melewati garis pembatas, maka terhitung keluar.
2. Pemain mengambil lidi satu persatu, lidi yang lain tidak boleh ada yang bergerak. Apabila lidi yang lain bergerak karena tersentuh lidi itu, maka permainan selesai dan pemain yang lain mengatakan “Mil”, itu tandanya permainan berhenti dan ganti giliran pemain yang lain.
3. Setiap lidi yang berhasil diambil diberi nilai 5, dan lidi lurah (yang paling panjang) diberi nilai 15. Lurah dapat menolong lidi yang lain dengan mencungkil dengan kepala lurah.
4. Permainan dilanjutkan terus menerus hingga ada salah satu pemain yang mendapatkan nilai batas. Biasanya batas nilai antara 200-500 poin. Pemain yang telah melampaui nilai dinamakan “mendhem 1, 2, dst.”

Catatan Ayah

Begitu banyak manfaat yang akan kita dapatkan dengan memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Selain tentu saja sebagai bagian untuk melestarikan permainan tradisional. Saya sendiri memperkenalkan permainan tradisional kepada Nala dan teman-temannya, juga dalam upaya untuk bernostalgia.

Terima kasih telah membaca catatan saya tentang memperkenalkan permainan tradisional kepada anak. Apa yang saya bagikan dalam catatan ayah ini sebagai bahan berbagi. Sekali lagi saya tidak menggurui, hanya berbagai apa yang sedang saya jalani.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai dulu, terima kasih sudah membaca. Salam.

More Stories
Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri
Belajar Menjadi Ayah Dari Sosok Ayah Kita Sendiri