Menebak Bakat Anak Sejak Dini

Menebak Bakat Anak Sejak Dini

Setiap orang tua, tentu saja ingin mengetahui apa yang menjadi minat dan bakat dari anaknya. Tidak heran jika kemudian orang tua berupaya menebak bakat anak sejak dini. Saya pun melakukan hal yang sama dengan kebanyakan orang tua tersebut.

Ketika orang tua mengetahui apa yang menjadi ketertarikan atau minat dari anaknya. Maka orang tua akan lebih mudah dalam upaya memberikan dukungan kepada anak untuk mengembangkan bakat anak nantinya.

Saya pribadi sampai saat ini masih berusaha menebak-nebak apa yang menjadi ketertarikan Nala. Apakah dia benar-benar tertarik pada seni tari, sama seperti ibunya? Atau dia suka menari karena secara alami ada bakat yang tersalurkan dari ibunya?

Saya dan istri tentu saja masih pada tahapan menebak, karena banyak hal yang Nala minati. Nala begitu tertarik dengan suara nada, begitu tertarik dengan gerakan tarian. Namun juga tertarik pada tumpukan buku, pada gambar, pada susunan paragraf, pada pensil warna, dan pada banyak hal lainnya.

Menggemaskan memang keinginan orang tua atas minat dan bakat anak. Saya sendiri sering kali tidak sabar untuk bisa membersamai Nala mengembangkan bakatnya nanti. Saya berharap, apa yang menjadi minat dan bakat Nala, saya bisa menemani dan mendukung secara penuh.

Usia Nala masih terlalu dini untuk saya bisa menebak secara lebih jelas apa yang menjadi minat dan bakatnya nanti. Namun diam-diam sebagai seorang ayah, saya mulai mempersiapkan beberapa hal untuk mendukung bakat Nala kelak.

Saya mencoba untuk mulai menerapkan beberapa cara sederhana dalam upaya mengetahui minat Nala. Cara sederhana yang saya dan istri lakukan untuk menebak bakat anak adalah sebagai berikut:

1. Memberi Anak Pilihan Apa Yang Mereka Senangi

Apa yang menjadi kesenangan anak, di sanalah orang tua bisa melihat dengan teliti apakah salah satu dari minat atau kesenangan anak tersebut ada yang menunjukkan bakat terpendam anak. Di sini, kita bisa mulai menebak bakat anak sejak dini.

Sebagai contoh, Nala anak saya sangat tertarik dengan banyak hal. Namun salah satu yang menarik perhatian Nala secara khusus adalah perihal kesenian, baik itu suara atau pun visual dan juga gerakan.

Saya dan istri pun menduga jika Nala memiliki sedikit banyak bakat seni, khususnya dalam bidang tari. Tidak lain karena ibunya bisa menari. Mungkin saja, apa yang menjadi minat ibunya dulu tersalurkan dalam gen Nala saat ini.

Namun, saya tidak bisa menentukan jika menari adalah salah satu bakat Nala yang harus saya asah agar tumbuh nantinya. Masih terlalu dini. Saya masih ingin memberikan pilihan kepada Nala. Pilihan yang bebas.

Mengapa memberikan pilihan bebas kepada anak perihal apa yang mereka senangi ini penting? Menurut saya sederhana saja, anak adalah peniru yang ulung. Jika dalam lingkungan rumah tinggalnya, banyak melihat satu hal, maka dia akan tertarik dengan hal tersebut.

Tidak heran jika Nala tertarik pada suara dan gerakan, pada buku dan warna. Karena memang dalam dunia itu kedua orang tuanya banyak berkecimpung. Nala banyak merekam, dan menjadi tertarik pada hal-hal yang saya dan istri kerjakan.

2. Membawa Anak Ke Lingkungan Sesuai Minat

Menebak bakat anak sejak dini melalu lingkungan minat anak. Seperti saya sebutkan sebelumnya, bahwa anak adalah peniru yang ulung. Apa yang mereka lihat dalam lingkungan keluarga, akan mereka tiru. Apa yang menjadi minat atau kesenangan orang tuanya, tentu saja akan anak pahami sebagai sesuatu yang juga menyenangkan untuk mereka.

Maka, saya dan istri mencoba untuk membuat jadwal memperkenalkan Nala dengan berbagai hal baru, membawa Nala menuju lingkungan baru. Namun tentu saja, saya tidak memaksakan kehendak. Lingkungan yang saya perkenalkan pun akan saya lihat, apakah Nala tertarik atau tidak.

Ketika kali pertama saya mengajak Nala mengunjungi mal karena ada bazar buku. Saya bisa menyaksikan bagaimana Nala begitu tertarik dengan hamparan buku yang tertata sedemikian rupa. Saya paham, hal ini berhubungan dengan bagaimana saya menyajikan buku di rumah. Hampir setiap sudut rumah terdapat buku-buku koleksi saya.

Lalu, ketika saya mencoba mengajak Nala untuk berkenalan dengan musik, membawa Nala ke salah satu kelas les piano. Walau Nala selama ini menyukai suara nada-nada yang saya putarkan, ternyata Nala tidak terlalu antusias ketika melihat orang memainkan piano. Mencoba saya ajak untuk memainkan piano pun Nala enggan.

Tentu saja saya belum memutuskan apakah Nala tidak tertarik pada suara, pada musik. Bisa jadi karena lingkungan yang baru, sesuatu yang butuh adaptasi. Anak-anak selalu unik, di mana pun mereka berada, mereka akan merekam setiap detail pengalaman mereka.

Lain cerita ketika Nala saya ajak melihat perlombaan menari anak-anak di salah satu sanggar tari di Kota Sleman. Nala begitu antusias, bahkan sampai saat ini beberapa gerakan tari anak yang saat itu Nala saksikan masih terekam dengan jelas. Nala masih bisa menirukan gerakan tarian yang ia lihat, ya walau tentu saja dalam versi usia Nala.

Saya dan istri telah sepakat untuk tidak mendikte apa yang menjadi keinginan anak. Jika Nala ingin atau tertarik pada tari, tugas saya adalah mendukung, memastikan ia mencapai keinginannya kelak.

3. Melihat Bakat Anak Dari Lingkungan Pertemanan

Saya beruntung karena dalam lingkungan tempat tinggal saya terdapat banyak anak-anak yang memiliki waktu untuk bermain bersama Nala. Mungkin ini salah satu keuntungan yang saya dapatkan dengan memutuskan tinggal di desa.

Dari beragam karakter anak, beragam usia, jenis kelamin, dan tentu saja latar keluarga yang berbeda-beda dalam minat dan bakat. Saya bisa menyaksikan bagaimana anak seusia Nala memiliki lingkungan pertemanan yang beragam. Dari lingkungan inilah saya bisa menebak bakat anak sejak dini.

Dari keberagaman inilah saya sedikit banyak melihat bagaimana proses Nala menjalin pertemanan. Ya walau di usia Nala saat ini, dominasi ego dan menang sendiri masih menjadi yang dominan. Saya beruntung karena teman-temannya jauh di atas usia Nala, sehingga bisa memahami Nala.

Dari lingkungan pertemanan ini, saya mencatat apa yang menjadi ketertarikan atau minat Nala ketika tidak sedang bermain dengan orang tuanya. Ketika dia berada dalam lingkungan yang sama dengan dirinya.

Ternyata banyak hal yang Nala inginkan. Banyak minat atau kesenangan teman-temannya yang juga menjadi fokus dan menarik perhatian Nala. Hal ini menjadikan saya bertambah banyak referensi, apa yang menjadi bakat Nala kelak.

paling tidak saya paham, melalui lingkungan pertemanan Nala. Bahwa anak perempuan saya ini memiliki kemampuan sosialisasi yang baik, dia bisa menunjukkan emosi yang baik ketika berhubungan dengan orang lain.

4. Memperhatikan Perilaku Anak

Ibu saya pernah berpesan kepada saya agar bisa memperhatikan perilaku anak saya kelak. Hal ini bagi saya adalah nasihat yang sangat berguna ketika akhirnya saya dikarunia seorang anak. Terelebih lagi, dapat saya gunakan dalam menebak bakat anak sejak dini.

Memang sering terjadi orang tua acuh dengan perilaku anak. Karena sering kali perilaku anak ini berubah tanpa kita sadari. Melalui nasihat ibu saya juga, saya kemudian merasa perlu untuk menjadi ayah yang hadir untuk anak-anak saya.

Pada postingan sebelumnya saya pernah bercerita bagaimana ketakutan saya menjadi seorang ayah. Saya takut jika ternyata saya menjadi ayah yang tidak hadir. Ayah yang tidak tahu perkembangan, tidak tahu bagaimana perilaku anaknya terbentuk.

Nyatanya, melalui perilaku anak kita sebagai orang tua bisa mengetahui sedikit banyak perihal apa yang anak senangi, apa yang menjadi minat dan bakatnya nanti.

Sebagai contoh, Nala dalam beberapa kesempatan menunjukkan rasa nyaman ketika sendirian. Atau merasa nyaman ketika ada saya di sisinya, walau kami tidak saling bermain. Saya membaca buku, dan Nala sibuk dengan selimutnya.

Nala yang sering kali melakukan sesuatu yang unik, asyik sendiri dengan mainan atau benda-benda yang ia temui, memperlihatkan kepada saya bagaimana dia bisa bertahan dalam rutinitas yang sama dengan melakukan hal-hal yang memecah kebosanan.

Tidak heran jika perilaku Nala sering kali menunjukkan hal-hal baru. Sesuatu yang lahir atau tercetus dari aktivitas harian yang ia jalani.

5. Mengikuti Tes Bakat dan Minat

Menebak bakat anak sejak dini melalui tes bakat dan minat. Orang tua tentu saja yang paling tahu tentang anaknya. Namun tidak ada salahnya sebagai orang tua kita untuk melakukan tes bakat minat anak kita. Saat ini layanan tes bakat minat sudah ada di berbagai klinik atau dokter anak.

Melalui tes bakat minat ini, kita sebagai orang tua bisa mengambil beberapa pilihan dari minat dan bakat yang paling menonjol dari anak-anak kita. Saya dan istri pun telah menyusun rencana perihal tes bakat dan minat Nala nantinya.

Saat ini masih sebatas mengamati, melakukan konsultasi dengan psikolog anak mengenai perkembangan Nala khususnya dalam minat dan bakat. Perkembangan anak memang seutuhnya orang tua yang lebih tahu, tetapi bantuan dari pihak lain untuk menerjemahkan arti dari setiap perkembangan anak, bagi saya sangat membantu.

Saat ini banyak dokter anak atau psikolog anak yang memberikan layanan  gratis konsultasi melalui media sosial atau kontan person mereka. Kita bisa mendapatkan layanan konsultasi walau sifatnya terbatas. Namun setidaknya bisa kita manfaatkan untuk membantu proses parenting kita.

Namun bagaimana pun perihal minat dan bakat, semua perlu kita kembalikan pada anak kita. Biarkan mereka yang menentukan apa yang akan mereka jadikan bakat sebagai bekal kehidupannya di masa mendatang kelak. Sesuatu yang memang mereka minati dari hati, tentu saja akan tumbuh lebih kuat dalam diri anak-anak kita.

Terima kasih telah membaca catatan saya tentang Menebak Bakat Anak Sejak Dini. Sekali lagi saya tidak menggurui, hanya berbagai apa yang sedang saya jalani. Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai dulu, terima kasih sudah membaca. Salam.

More Stories
Cara Meminta Istri Untuk Berhenti Bekerja
Cara Meminta Istri Untuk Berhenti Bekerja