Membangun Rumah Impian

Menyusun Rencana Keluarga di Tengah Pandemi

membangun rumah saat pandemi

menjadiayah.com Setelah lama tidak menulis, hari ini saya coba kembali rutinitas menulis di blog ini. Ada banyak hal yang harus saya dahulukan, sehingga memang porsi untuk menulis sering terabaikan. Kita semua sedang memasuki masa-masa yang tidak mudah. Tentu karena berbagai perubahan yang terjadi begitu cepat. Katalisnya, pandemi.

Saya, harus memutar beberapa rencana yang sudah saya rancang bersama pasangan sebelumnya. Beberapa hal yang penting harus kami tunda, beberapa lainnya terpaksa kami lewatkan begitu saja, dan prioritas utama untuk memilih satu atau dua yang memang paling mungkin untuk kami kerjakan.

Diantara berbagai rencana setelah menikah adalah membangun rumah. Setiap keluarga baru, tentu membutuhkan tempat tinggal yang cukup nyaman untuk anggota keluarga.

Kami sudah berada pada tempat tinggal yang nyaman, walau sifatnya masih nebeng sama orang tua. Itu mengapa, sejak kami menikah, rencana kami sederhana, untuk bisa segera memiliki hunian impian kami sendiri.

Tahun ini, adalah tahun di mana rencana itu harus kami mulai. Tentu dalam situasi seperti ini, kemudian semua menjadi tidak mudah. Banyak hal yang berubah, banyak pengeluaran dan kebutuhan yang harus hati-hati betul.

Kami percaya rencana ini baik, dan semoga bisa terwujud sebagaimana impian kami.

Sahabat pembaca tentu ada yang sudah mengetahui, bagaimana cerita perjalanan pekerjaan saya, sampai posisi saya saat ini yang memilih sebagai pekerja lepas atau bahasa kerennya freelancer.

Dengan pekerjaan yang lebih cair, dengan keleluasaan waktu yang lebih longgar. Memang juga sering kali memberikan rasa tidak aman juga bagi pendapatan dan pengeluaran bulanan. Tapi, itu harga yang harus saya dapatkan.

Sahabat juga mungkin sudah membaca, saat ini dalam rumah tangga kami, hanya saya bekerja. Sejak Nala mulai tumbuh, dan kami melihat ada kebutuhan agar bisa lebih intens dengan Ibunya, maka saya meminta istri untuk berhenti bekerja.

Jadi, bisa dikatakan secara pendapatan dalam keluarga kami memang tidak menentu. Karenanya, sering kali saya mempelajari berbagai cara, bagaimana mengatur keuangan rumah tangga dengan pendapatan yang tidak menentu ini.

Maka, ketika beberapa rencana pupus. Satu rencana dalam keluarga kami yang coba terus pupuk untuk bisa terwujud adalah memiliki rumah sendiri. Banyak skema yang sudah kami susun sebelumnya, mulai dari KPR, atau membeli rumah jadi.

Namun, pada akhirnya hunian adalah impian dan kebutuhan seluruh anggota keluarga. Maka, pilihan jatuh untuk membangun rumah secara mandiri. Kami membeli tanah di pinggiran desa, memulai untuk membangun rumah impian kami.

Ini rumah tumbuh! Biaya untuk menyelesaikan sebuah rumah memang tidak murah. Maka konsep rumah tumbuh kami ambil. Kami sedang memulai untuk bagian penting, bagian utama agar bisa kami tinggali.

Sementara bagian lain, berbagai bagian pendukung sebuah rumah, kami upayakan terwujud sebari kami mendiami rumah impian tersebut. Ya, paling tidak, kami menjadi memiliki semangat baru setiap harinya, untuk mencari pundi-pundi dana guna menyelesaikan rumah impian kami.

Saat ini, proses rumah ini sudah 50%. Kami beruntung bisa sampai titik ini. Pengerjaan sedang berhenti, pekerja yang kami sewa jasanya, sedang meminta izin libur pulang kampung. Ini juga menjadi kesempatan untuk saya menarik nafas dan mencari dana tambahan.

Jujur saja, dalam proses membangun rumah ini, saya terlibat langsung, begitu juga istri saya. Saya, menjadi laden tukang, membantu apa yang saya bisa. Ini menjadi menyenangkan, karena saya merasa setiap batu, setiap bata, setiap besi, dan berbagai elemen pendukung sebuah rumah ada tangan saya yang bekerja di sana.

Kiranya demikain, saya memulai untuk menulis kembali di blog menjadiayah.com ini. Bagaimana kabar sahabat sekalian, semoga sehat selalu, dan berbagai rencana sahabat dapat terwujud dengan baik. Terima kasih sudah membaca, salam.

More Stories
Peran Ayah Untuk Anak Perempuan Dalam Islam
Peran Ayah Untuk Anak Perempuan Dalam Islam