Nala dan Berangkat Kerja

Nala dan Berangkat Kerja

Menjadiayah.com Sudah dua hari ini Nala begitu lengket dengan saya. Cara Nala memanggil saya yang khas “A..iiyaahhhh” berkali-kali ia lontarkan. Seperti ada kerinduan yang dalam.

Saya menyadari, dalam pada hari kerja, waktu saya, sangat sedikit yang bisa saya curahkan untuk Nala. Biasanya hanya pada pagi hari sebelum berangkat kerja, dan sepulang kerja.

Persoalannya, ketika pulang sering kali Nala sudah mulai lelah dan siap untuk tidur. Ya, Nala memang tidak bisa saya tebak kapan mau istrirahat dan tidur. Kadang setelah maghrib, kadang selepas isa, juga ikut salat tarawih, dan kadang bisa sampai jam 10 malam.

Tentu saja, saya masih bersyukur, karena paling tidak saya masih bisa memiliki waktu 2-3 jam per hari untuk bersama Nala. Khususnya pada pagi hari dan malam hari.

Nala mulai memahami apa itu kerja. Ia paham aktivitas dan rutinitas saya. Bahkan yang membuat saya haru adalah, bagaimana Nala kini menyiapkan sepatu saya. Nala akan membawa sepatu saya keluar rumah, dan seperti biasa saya akan mengenakan berdasarkan intruksi Nala.

Tadi pagi, Nala lumayan lama untuk bisa melepas saya berangkat kerja. Anak perempuan saya ini memang sedang rindu sepertinya dengan saya.

Ia minta saya mengendong, berkeliling, cukup lama. Nala punya hal-hal menarik yang ia ciptakan untuk menahan saya pergi. Namun pada akhirnya, ia dengan senyum yang saya selalu suka, mengizinkan saya berangkat kerja.

Ketika siap pergi, Nala akan dengan senang hati cium tangan, cium pipi kiri kanan, dan salam sayang dengan hidung (menenmukan hidung saya dan Nala kemudian saling menggerakkan) Nala suka sekali salam hidung, selain suka sekali mengajak saya menari.

Lantas, ketika saya sudah siap beranjak. Nala akan berucap begini: “Hati-hati Aiiiyyyyaaahhhhhh!” Sembari melanju pelan, saya berat sekali sebarnya. Duh Nduk, ayahmu ini rapuh.

More Stories
Tarawih Pertama Dunia Nala
Nala dan Salat Tarawih Pertama