Tarawih Pertama Dunia Nala

Nala dan Salat Tarawih Pertama

Menjadiayah.com Kemarin malam, menjadi momen berharga bagi keluarga kecil kami. Sederhana saja, kami bisa melakukan salat jamaah bersama. Berangkat ke masjid bersama, dan menyambut datangnya Ramadhan bersama-sama.

Nala, tentu menjadi bagian yang patut untuk saya catat.  Sebab sepanjang salat tarawih berlangsung, si kecil terkasih ini begitu aktif. Berlari kecil, berkejaran dengan teman-temannya, mengelilingi jamaah yang sedang salat.

Saya cemas, begitu juga dengan istri dan mertua saya. Tentu kami takut jika Nala akan melakukan manuver lain, sesuatu yang bisa mengganggu dan mungkin sekali mengurangi kekhusyukan jamaah, atau bahkan membatalkan ibadah mereka.

Namun pada sisi lain, kecemasan itu berangsur hilang. Jamaah masjid sudah terbiasa dengan anak-anak, dan kami secara sadar sebagai komunitas masyarakat, telah memberi ruang seluas-luasnya bagi anak-anak untuk datang ke masjid.

Bermain! Ya tentu saja itu menjadi salah satu latar belakang anak-anak mau ikut ke masjid. Mereka akan bertemu teman mereka, dan bermain apa pun yang mereka sukai. Sesekali ada jamaah yang memberi isyarat kepada anak yang sudah lebih besar untuk mengurangi permainan lari, atau teriakan. Itu wajar adanya.

Anak-anak yang lebih besar, mereka bukan tidak paham. Tentu saja mereka paham. Berbagai himbauan untuk memelankan suara misalnya, tentu akan mereka patuhi. Namun tidak akan bertahan lama. Ya begitulah dunia mereka. Dunia anak-anak.

Nala Yang Memilih Bermain Sendiri

Pada awal-awal salat tarawih Nala masih memantau dengan seksama siapa saja anak-anak lain yang ia kenali. Nala menyebut mereka yang lebih besar sebagai Kakak.  Sejak bersiap-siap di rumah, ketika mamanya memberi tahu bahwa kami akan berangkat ke masjid, berangkat untuk Allah (Allah artinya Shalat dalam bahasa Nala), ia senang, dan satu yang langsung terucap “kakak”.

Nala yang masih 18 bulan ini, sudah paham betul bahwa di masjid akan banyak kakak di mana akan banyak permainan, akan banyak dunia anak-anak. Namun ternyata, Nala tidak cukup menjadi pengikut.  Nala memiliki cara, memiliki ruang, memiliki imajinasi sendiri.

Jika teman sebaya atau kakak-kakak Nala bermain berkerumun, Nala memilih bermain seorang diri. Nala menelusuri setiap jamaah, berhenti dan memandangi secara detail. Hilir mudik seorang diri dengan berbagai tingkah laku khas dari Nala. Sesekali turut menirukan gerakan salat tarawih dengan berdiri tepat di sajadah jamaah. Nala tidak peduli, apakah Nala kenal jamaah tersebut atau tidak.

Dalam kesendirian, berpisah dari permainan anak-anak lain. Nala ternyata mencari saya. Namun dalam jamaah yang ramai, karena hari pertama tarawih dan juga harus saling jaga jarak sehingga masjid penuh sampai serambi bahkan pelataran. Maka, Nala kesulitan mendapati keberadaan saya.

Lain halnya dengan saya, yang paham betul posisi Nala di mana, baik dari suara Nala, atau derap langkah dan jangkauan pangan saya di sela-sela salat. Saya menyadari bahwa Nala tumbuh menjadi pribadi yang pemberani, pribadi yang mungkin saja tidak mudah terbawa arus. Nala sering kali menjadi pemimpin bagi kelompoknya, dan dia tidak memaksakan untuk membuat kelompok baru jika sudah ada kelompok bermain sebelumnya.

Memilih sendiri, bermain sendiri, adalah jalan lain yang saya amati dari pribadi dan karakter Nala sejauh ini. Jika saya dulu sangat pemalu, saya kira Nala adalah kebalikan dari sifat warisan itu. Nala tidak malu! Nala mudah untuk mengenal dan dikenali. Dan semua itu adalah doa yang saya dan istri panjatkan setiap waktu.

Ini Tarawih Pertama Kami

Sebagai sebuah keluarga kecil, tahun 2021 menjadi salat tarawih pertama keluarga kami. Tahun lalu kita semua tahu, di berbagai daerah masih membatasi kegiatan ibadah tarawih. Sehingga tahun lalu belum bisa mengikuti salat  tarawih berjamaah bersama di masjid. Jika pun boleh, tentu saja Nala belum dapat turut serta waktu itu.

Tahun ini menjadi sangat berarti, karena tumbuh kembang Nala yang kian hari kian membuat saya kagum. Betapa banyak hal yang saya tidak ingin melewatkan begitu saja. Mulai dari perkembangan emosi Nala, perkembangan tarian Nala, dan berbagai hal yang tidak terduga lainnya.

Dunia Nala adalah dunia yang indah. Saya hanya bisa melihat dari jauh, dari jarak saya bisa menjangkau.  Sebagai orang tua saya dan istri tidak ingin dunia yang mutlak menjadi hak Nala ini kemudian tercampur oleh warna-warna dan bentuk-bentuk dari dunia saya hari ini.

Saya memiliki dunia saya, dunia yang sudah jauh akan tertinggal oleh dunia Nala. Saya barang kali akan terus memperbaharui diri untuk mengikuti dunia Nala. Dan semampu mungkin, untuk tidak menawarkan dunia versi saya kepada Nala.

Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa, semoga sehat selalu untuk pembaca dan keluarga di rumah. Tetap jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan. Utamakan kesehatan untuk diri dan keluarga!

Sahabat pembaca, seperti apa dunia anak-anak sahabat sekalian? Bagaimana kesan pertama salat tarawih bersama keluarga kecil?  Apakkah sama seperti yang saya rasakan? Boleh kita saling berbagi cerita di kolom komentar. Terima kasih telah membaca. Salam. Ayah Nala!

More Stories
Nala Menari di tempat Wisata
Nala dan Tarian Kegembiraan