Panggilan Sayang Bahasa Jawa

Panggilan Sayang Bahasa Jawa

Apa panggilan sayang di daerah kamu? Apakah masih terjaga sebagai panggilan keseharian yang umum oleh masyarakat? Atau mulai terganti oleh bahasa lain yang mewakili arti yang sama? Nah, dalam kesempatan ini saya ingin bercerita tentang bagaimana pengalaman saya menggunakan panggilan sayang bahasa Jawa.

Sebelum kita lanjut membahas bagaimana saya menggunakan panggilan sayang dalam bahasa Jawa untuk istri saya. Teman-teman pembaca perlu mengetahui latar kehidupan saya terlebih dahulu, agar mudah dalam memahami cerita pengalaman saya kali ini. Ya biar tidak ada salah paham, dan kita bisa saling mengenal.

Saya asli dari suku Jawa, tepatnya dari Jawa Tengah, namun sejak usia 2 tahun saya ikut orang tua merantau ke Kalimantan. Maka budaya yang saya dapatkan menjadi beragam, khususnya dalam pemahaman bahasa, saya lebih memahami bahasa Banjar Kalimantan Selatan dibanding dengan bahasa Jawa.

Apakah di rumah saya tidak menggunakan Bahasa Jawa? Tentu saja orang tua saya menggunakan, namun intensitas saya mendengar bahasa Jawa dalam lingkungan kecil keluarga dan tempat tinggal waktu itu lebih sedikit. Dalam ingatan saya, hanya ketika orang tua saya saling bicara, sedang ketika berbicara dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa banjar. Maka saya lebih paham menggunakan bahasa Indonesia dan Banjar.

Saya baru bisa secara intim dalam penggunaan bahasa Jawa ketika mulai masuk SMA, karena saat itu lingkungan pertemanan sudah mulai beragam ada yang dari daerah transmigran, yang notabene berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemudian mulai menggunakan Bahasa Jawa untuk keseharian dan mulai kaya dengan kosakata Bahasa Jawa ketika saya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta.

Panggilan Sayang Bahasa Jawa Untuk Pasangan

Panggilan Sayang Bahasa Jawa Untuk Pasangan suami istri

Saya mulai berkenalan dengan bahasa Jawa secara serius di Yogyakarta, dalam artian memahami bagaimana penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar. Karena dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan kata yang mana penggunaannya bisa berbeda-beda, menyesuaikan usia, atau siapa yang menjadi lawan bicara dan dalam situasi seperti apa pembicaraan itu berlangsung.

Nah dari Yogyakarta ini pula selain saya mempelajari bahasa Jawa, saya mulai mempelajari cara mengobati patah hati. Perihal patah hati mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Singkat cerita di kota budaya inilah saya menemukan belahan hati dan jiwa saya.  Perkenalan singkat yang kemudian menjadi upaya saling memahami cukup lama, dan akhirnya menikah. Perjalanan ini juga akan saya ceritakan lain waktu.

Singkat cerita saya menikah dengan seorang wanita yang juga suku Jawa. Tepatnya seorang wanita blasteran antara Kudus, Jawa Tengah dan Sleman, Yogyakarta. Nah, karena kami kemudian memutuskan untuk tinggal di Sleman, dengan lingkungan Jawa yang alhamdulillah masih terjaga, maka saya mencoba untuk menjadi ayah yang ‘njawani’ dalam membina rumah tangga dan upaya menjadi ayah bagi Nala putri saya yang kini sedang belajar kosakata baru: Perkembangan Kosakata Nala.

Sebagai seorang suami saya mencoba menggunakan panggilan sayang bahasa Jawa untuk istri dan juga sebaliknya. Akan tetapi lidah dan hati seolah belum menemukan cara untuk saling memadukan kemesraan.  Panggilan sayang yang keluar dari aksen saya yang sudah njawani tidak terasa merdu dan tersampaikan dengan baik, justru melempar keanehan tersendiri.

Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana saya memanggil istri saya dengan “dek” dan istri memanggil saya dengan “mas”? Sulit ya untuk membayangkan. Tetapi saya yang telah mencoba masih selalu gagal, ya kedua kata tersebut memang yang paling saya tahu sebagai panggilan sayang Bahasa Jawa untuk suami dan istri. Panggilan dek untuk istri dan mas untuk suami, ini pun saya curi dengar dari tetangga tempat tinggal saya.

Panggilan Sayang Khusus Semasa Pacaran

Panggilan Sayang Khusus Semasa Pacaran

Apakah kamu memiliki panggilan sayang khusus untuk orang tertentu? Misalnya untuk seseorang yang sangat spesial seperti teman baik, sahabat, atau orang spesial yang lebih serius seperti pacar? Jika jawabnya iya, maka kita sama.

Ada perjalanan panjang dalam saya menentukan nama panggilan yang pas semasa pacaran. Setelah menikah mencoba mengganti panggilan sayang bahasa Jawa, dan kamu sudah tahu seperti apa hasilnya? Terasa kurang menjiwai ketika mengucapkannya, mungkin faktor kurang terbiasa. Sehingga uji coba akan berlanjut.

Karena belum berhasil menggunakan panggilan sayang Bahasa Jawa dengan nyaman dan romantis. Maka  kami pun kembali menggunakan panggilan sayang semasa pacaran dulu. Ya sudah menjadi rahasia umum kan, ketika seseorang menjalin hubungan spesial kemudian tidak lagi menggunakan “aku, kamu” atau memanggil nama saja. Tentu ada kata spesial yang mewakili perasaan kita saat itu.

Banyak pilihan panggilan sayang untuk pasangan sebenarnya, saat itu ketika melihat orang pacaran umumnya menggunakan kata panggilan sayang seperti; Baby, Bee, Boo, Honey, Darling, Swetty, Say, Sayang, Mama, Ayah atau Abi dan Umi. Tidak sedikit yang memang menggunakan kata panggilan sayang layaknya sudah resmi menjalin rumah tangga.

Nah saya dan istri waktu itu tidak memiliki panggilan sayang ketika awal-awal saling mengenal dan menjalin hubungan. Namun kemudian muncul pelan-pelan panggilan sayang yang mewakili perasaan kami masing-masing. Panggilan sayang untuk orang terkasih yang mungkin tidak digunakan oleh pasangan lain.

Saya memanggil istri, waktu itu masih berstatus pacar saya dengan panggilan sayang “We” dan ia memanggil saya dengan panggilan sayang “Be” Ya dengan satu ‘e’. Yang mana kata panggilan sayang ini menjadi Be We (BW) jika dalam dunia fotografi berati black and white atau hitam putih. Panggilan Be We ini mewakili sifat kami yang memang bertolak belakang dan sangat kontras seperti hitam dan putih, harapannya walau saling berbeda bisa menyatu dan memberi keindahan dalam satu komposisi sebuah foto.

Panggilan Sayang Bahasa Jawa Untuk Anak

Panggilan Sayang Bahasa Jawa Untuk Anak perempuan dan laki-laki

Saya telah menjadi ayah. Alhamdulillah saya dikaruniai seorang anak pertama berjenis kelamin perempuan, yang tentu saja saya segala doa dan harapan saya titipkan kepada anak perempuan saya ini. Upaya ini melalui doa, dan tentu saja bagaimana saya membersamai tumbuh kembang anak saya dari hari ke hari.

Kita tentu sudah sering mendengar jika nama adalah doa. Alhamdulillah saya sudah memberikan nama anak saya dengan sebaik-baik nama yang saya bisa berikan. Nah, bagaimana dengan panggilan kesayangan selain nama?  Ini tentu saja tidak bisa saya hindari, mungkin saya bisa tetap memanggil dengan nama panggilan, tapi bagaimana dengan orang lain?

Dalam budaya Jawa anak-anak akan memiliki panggilan sayang seperti; ndhuk, nok, nang dan le. Biasanya panggilan ini diberikan oleh orang tua, kerabat dekat, atau orang sekitar tempat tinggal. Lebih jauh panggilan sayang bahasa Jawa untuk anak ini sudah bersifat universal, artinya orang yang baru kenal pun akan menggunakan panggilan ini untuk anak-anak.

Saya tidak keberatan menggunakan panggilan sayang bahasa Jawa untuk anak saya. Karena makna yang terkandung dari panggilan sayang ini tentu saja hal yang baik. Karena tidak bisa menyeragamkan untuk semua anggota keluarga memanggil dengan nama panggilan yang telah saya tentukan.

Lantas apa arti panggilan sayang ndhuk dan Nok? Ndhuk adalah panggilan sayang yang berasal dari kata gendhuk, memiliki arti seorang gadis muda yang dekat dengan orang tertentu—bisa keluarganya, saudaranya, atau majikannya (keluarga kerajaan pada zaman dahulu).

Selain panggilan ndhuk, panggilan untuk anak perempuan dalam Bahasa Jawa juga ada nok. Panggilan Nok ini kerap merujuk pada alat vital perempuan yang sakral, bersifat pribadi, dan menjadi pelambangan atas reproduksi dan kesuburan, serta keakraban dan keintiman.

Untuk anak laki-laki ada panggilan Thole yaitu singkatan dari guthule, ini merujuk pada alat kelamin laki-laki. Selain itu juga bisa dipanggil lik atau nang. Lik kependekan dari cilik, bermakna alat kelamin anak laki-laki yang masih kecil.

Mengapa Panggilan Kesayangan Menjadi Penting?

Mengapa Panggilan Kesayangan Menjadi Penting untuk sebuah hubungan

Panggilan kesayangan bisa kita artikan sebagai pengganti ‘nama’ yang mana terkandung doa dan kebaikan setiap kali kita ucapkan. Maka jelas sebuah panggilan harus memiliki nilai yang baik. Saya sendiri ketika memutuskan menggunakan nama panggilan Be We, memiliki harapan dari sifat yang berbeda bisa menghasilkan komposisi yang baik.

Keputusan memulai uji coba panggilan sayang suami istri dalam bahasa Jawa pun bukan tanpa alasan. Terlebih saat ini kami sudah menjadi orang tua. Bisa jadi suatu saat nanti panggilan sayang saya dan istri menjadi; bune dan pakne, seperti umumnya masyarakat tempat kami tinggal.

Memang tidak dapat dipungkiri penggunaan panggilan sayang bisa mendekatkan kita dengan pasangan, menambah hubungan menjadi semakin romantis. Karenanya tidak bisa kita asal menggunakan panggilan, mungkin bisa kita ucapkan, tapi penerimaan dan kenyamanan dari jiwa dan hati kita tidak pernah berdusta.

Karena pentingnya membangun rumah tangga yang harmonis, kompak, saling mendukung, saling menyayangi dan tumbuh bersama, maka panggilan sayang menjadi salah satu senjata untuk menali kedekatan dan keintiman yang ada agar keharmonisan terus terjaga. Jadi kalau pun belum berhasil menggunakan panggilan sayang bahasa Jawa, ya saya dan istri tidak akan memaksakan kehendak, semua akan mengalir dan menemukan masanya, seperti ketika panggilan Be We muncul dalam benak kami.

Untuk Nala sendiri, masih terlalu dini untuk menentukan pilihan panggilan nama karena Nala baru berusia satu tahu. Nah, bagaimana panggilan sayang kamu untuk pasangan kamu? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya! Salam kenal dari aku, seorang lelaki yang sedang berusaha menjadi ayah. Ayah Nala cukupkan sampai dulu, terima kasih sudah membaca. Salam.

Ayah Nala – menjadiayah.com Yogyakarta, 20 Oktober 2020.

More Stories
Cara Menjadi Ayah Yang Baik Untuk Anak Dan Istri
Cara Menjadi Ayah Yang Baik Untuk Anak Dan Istri