Perkembangan Emosi Anak Usia 1 Tahun

Perkembangan Emosi Anak Usia 1 Tahun

Menjadiayah.com Beberapa hari terakhir Nala menunjukkan sikap yang berbeda, khususnya ketika Nala merasakan tidak suka atau tidak setuju dengan pilihan atau keberadaan orang lain. Saya memperhatikan perubahan ini sejak lama sebenarnya, namun berjalan dengan pelan. Dan tepat ketika usianya 17 bulan, Nala memberikan kejutan perkembangan emosi dirinya. Seperti apa sih perkembangan emosi anak usia 1 tahun?

Emosi, tentu tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, anak-anak dan balita pun juga memiliki perasaan emosi masing-masing. Bahkan, pada kasus tertentu anak-anak bisa merasakan emosional yang lebih dalam dari pada emosi orang dewasa. Emosi yang masih dalam tahap perkembangan ini, perlu kita sikapi dengan bijak. Ini yang saya pegang ketika mengikuti kelas parenting ayah.

Pada dasarnya anak-anak masih belum mampu mengendalikan emosi mereka. Ketika Nala tiba-tiba mengeluarkan nada tinggi, bisa saya katakan teriak kepada Mamanya, saya tentu terkejut, begitu juga istri saya. Karena ini kali pertama Nala melakukan ini, kami masih saling pandang untuk mengambil tindakan yang paling tepat.

Ketika Nala berteriak, mengeluarkan kata yang lebih nyaring dari biasanya, dan menampakkan raut wajah tidak suka dan marah. Saya dan istri tahu, apa yang terjadi adalah tahapan perkembangan emosi Nala, dan ini tentu seiring atau mengikuti perkembangan dari usia Nala itu sendiri.

Seperti halnya Nala yang mulai bisa menunjukkan sikap tidak suka, yang mana menjadi pertanda usianya yang ke 17 bulan. Kami memperhatikan sekali detail kecil setiap pertambahan usia Nala dari bayi sampai saat ini, banyak hal yang kemudian muncul dan terlihat dari dalam diri Nala, termasuk dalam hal emosinya.

Saya menyebut emosi, dan memberikan contoh rasa marah Nala, bukan berarti emosi adalah marah atau tidak suka. Hanya saja contoh atau hal yang muncul dari Nala dan sangat tampak adalah emosi untuk tidak suka / marah ini. Tentu ada emosi lain, yang sedikit banyak Nala juga mulai mampu menunjukkan dengan cara dan versinya. Misalnya emosi kegembiraan dengan ekspresi tarian kegembiraan Nala.

Bagaimana Perkembangan Emosi Anak Menurut Ahli?

Bagaimana Perkembangan Emosi Anak Menurut Ahli

Perkembangan emosi anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia, namun perkembangan emosi anak juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya. Misalnya, faktor gen atau keturunan yang juga berpengaruh dalam perkembangan emosi anak.

Saya dan istri sering kali saling melihat ke dalam, apakah perkembangan emosi yang muncul dalam tumbuh kembang anak kami adalah bawaan dari gen kami? Apakah emosi anak adalah turunan dari emosi yang telah melekat dalam diri kami?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan persoalan emosi anak usia  1-3 tahun, saya kemudian mencari banyak referensi. Mulai dari bertanya kepada teman yang sudah lebih senior dalam mengasuh anak, bertanya kepada orang tua saya, dan mencari dari sumber referensi lain yang terpercaya.

Menurut ahli, tidak hanya kesehatan fisik yang perlu menjadi perhatian orang tua dalam tumbuh kembang anak. Namun juga perlu memerhatikan perkembangan emosi dan sosial anak. Ini penting, agar anak mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya.

Mengutip dari detik.com psikolog Anna Surti Ariani, MPsi, atau yang akrab disapa Nina, menjelaskan bahwa terdapat beberapa keterampilan sosial yang perlu dikuasai oleh anak, akan tetapi hal ini kerap terlupakan. Salah satunya adalah kemampuan berteman dan bekerja sama dengan siapa saja.

Menurut Niana; “Anak juga diharapkan mampu menyelesaikan pertengkaran, punya rasa peduli dan mau sabar menunggu. Untuk anak usia 1-3 tahun, biasanya ia sudah mampu memahami dirinya perempuan atau laki-laki. Sudah bisa juga bermain bersebelahan walaupun tidak banyak bicara satu sama lain.”

Pada usia 1-3 tahun anak sudah mulai pandai meniru, terlebih jika sedang bermain dengan teman-teman sebayanya. Ketika ada teman yang mengambil balok dan membuat menara misalnya, anak yang indikator sosialnya bagus akan mengamati dan meniru apa yang mereka lihat.

“Namun mereka belum paham tentang konsep kepemilikan, jadi masih sulit berbagi. Semua barang yang dia pegang, itu dianggap miliknya. Jadi jangan diomelin kalau mainan temannya tak mau dikembalikan, dikasih tahu saja dengan cara yang baik,” begitu pesan Nina.

Anak pada usia 1-3 tahun sering menjadikan pukulan sebagai pelampiasan, akan tetapi mereka belum memahami bahwa tindakkan memukul akan membuat orang sakit. Maka, tidak heran jika kemudian anak sering tiba-tiba memukul orang lain tanpa tahu penyebabnya.

Mengapa Ketika Emosi Anak Membenturkan Diri Ke Tembok?

Mengapa Ketika Emosi Anak Membenturkan Diri Ke Tembok

Satu hal yang saya juga catat dari perkembangan emosi anak seperti usia Nala saat ini adalah, mereka membutuhkan saluran emosi yang tepat. Ini memang saya belum menemukan cara yang paling pas untuk usia dan karakteristik dari Nala.

Anak saya Nala, menyalurkan emosinya juga dengan cara memukul kecil, atau menarik rambut Mamanya. Namun Nala juga bisa memukul diri sendiri, atau membenturkan diri ke dinding. Ini yang saya masih bingung dalam melakukan komunikasi terbaik agar Nala paham bahwa menyalurkan emosi ada dalam cara yang lebih aman.

Karena saya memahami Nala sedang emosi, dan perkembangan sosial anak memungkinkan Nala memukul, tapi belum tahu kalau itu akan membuat sakit. Saya sependapat dengan Nina bahwa; “pada fase ini, orang tua harus mendampingi terus, tidak bisa lepas tangan. Ini karena orang tua adalah contoh pertama bagi anak untuk bersosialisasi.”

Memang intensitas Nala untuk meluapkan emosi yang sampai pada tahap upaya menyakiti dirinya, walau konsep ini saya masih kurang yakin apakah Nala membenturkan diri ke tembok karena tahu akan sakit atau tidak. Saya berupaya mencari apa pemicu Nala melakukan ini.

Anak adalah peniru, saya coba cek apakah dalam keluarga Nala pernah melihat seseorang melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Apakah temannya ada yang memukul dirinya sendiri atau membenturkan diri ke tembok. Sejauh ini belum saya dapatkan jawaban.

Jika sahabat pembaca memiliki pengalaman yang sama, mengetahui jawaban atau informasi mengapa anak bisa memiliki saluran emosi seperti kasus anak saya, boleh sekali membagikan pengalaman dan saran pada kolom komentar. Saya akan sangat berterima kasih untuk itu.

Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 1-2 Tahun

Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 1-2 Tahun

Sebelum sahabat membaca bagian ini, saya perlu menginformasikan bahwa apa yang saya tuliskan dalam catatan kali ini adalah dari hasil saya membaca dan memahami dari berbagai sumber. Jadi, saya mohon maaf jika apa yang saya tulis sebagai rangkuman ini terjadi kekeliruan.

Sebagai orang tua, tentu kita selalu ingin mengetahui dan memahami setiap tahap perkembangan anak kita, termasuk bagaimana perkembangan emosi mereka. pada anak usia 0-2 tahun misalnya, sering kali menjadi titik awal bagaimana kemunculan-kemunculan emosi anak yang orang tua saksikan.

Pada usia 1-2 tahun ini, menjadi tahap awal bagaimana perkembangan anak dimulai. Apa yang akan kita berikan, akan memberi dampak luar bisa pada fase kehidupan anak nantinya. Maka dari itu, anak-anak usia 1-2 tahun biasanya kita beri stimulus agar mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sehingga tumbuh menjadi individu yang penuh percaya diri.

Namun bagaimana jika anak mengalami kurangnya kepercayaan diri? Anak justru memiliki perasaan penuh curiga? Anak jadi mudah marah? Mudah tidak terkontrol? Jawaban atas pertanyaan ini, karena mereka masih belum bisa mengendalikan emosi mereka dengan ‘benar’, dan kecenderungan anak yang masih melihat semua dalam kaca mata yang sama.

Bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar dalam versi mereka. Dunia anak-anak yang penuh imajinasi inilah yang sebaiknya kita jaga dan perhatikan secara serius. Sebagai orang tua, menjalankan peran pengasuhan memang memerlukan pengalaman yang cukup, agar tepat dalam mengambil tindakan atas setiap tumbuh kembang emosi anak.

Emosi anak, tidak muncul tiba-tiba. Mari kita ingat, bagaimana tumbuh kembang anak sejak lahir, bagaimana awal mereka menunjukkan senyumnya ketika merasa nyaman. Kemudian bagaimana anak mulai belajar mengekspresikan emosi mereka seperti marah, takut, senang, hingga takut.

Anak bisa mengekspresikan emosi mereka dengan berbagai cara, pada umumnya ketika usai 0-1 tahun emosi ditunjukkan dengan tertawa atau menangis. Pada usia 2 tahun, anak mulai pandai meniru reaksi emosi orang sekitarnya, termasuk kita sebagai orang tuanya.

Cara Menstimulasi Kecerdasan Emosional Anak

Cara Menstimulasi Kecerdasan Emosional Anak

Perkembangan emosi anak, tidak lepas dari bagaimana peran orang tua, bagaimana peran parenting berjalan. Perlakuan orang tua pada anak usia 1-2 tahun memang memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan rasa percaya dirinya.

Bagaimana pun, pada fase bayi, mereka akan membutuhkan banyak hal untuk mengetahui lingkungannya dengan familiar. Saya memperhatikan bagaimana tumbuh kembang Nala rasanya begitu cepat, dan tentu ada hal yang saya lewatkan dari itu.

Menurut dr. Margareta Komalasari, Sp.A dalam sebuah sesi Kuliah Whatsapp bersama Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 dengan judul 1001 Strategi untuk Generasi Unggul: Persiapan Anak Unggul di Masa Emas Tumbuh Kembang, membagikan tips bagaimana cara menstimulus anak usia 0-2 tahun. Ringkasannya sebagai berikut:

Anak Usia 0-3 bulan: orang tua bisa mengajak anak bermain cilukba atau bercermin untuk melihat ekspresi wajahnya. Kita juga bisa menstimulus dengan tengkurap dan terlentang.

Anak Usia 3-6 bulan: orang tua bisa mulai menambah rangsangan perkembangan anak dengan mengajaknya berkenalan melalui salaman tangan. Kemudian, mengajarkan bertepuk tangan, membacakan dongeng, serta melatih duduk dan berdiri. Pada usia ini anak mulai mampu mengeluarkan ekspresi dirinya.

Anak Usia 6-12 bulan: orang tua bisa mengajak anak melakukan ragam permainan sederhana yang dapat merangsang perkembangan emosinya. Sebagai contoh permainan memasukkan mainan ke dalam wadah, menggelindingkan bola, mencoret-coret, menyusun kubus, dan lain sebagainya.

Kita juga bisa mengajarkan anak untuk belajar berdiri dan berjalan. Dengan berbagai kegiatan ini, maka tumbuh kembang anak termasuk perkembangan emosinya akan berjalan baik sesuai dengan usia mereka.

Anak Usia 12-18 bulan:  orang tua bisa mengajarkan menyusun kubus, puzzle, main boneka, menggunakan sendok, piring, melatih jalan mundur atau menaiki anak tangga satu-persatu. Anak perlu mengasah keahliannya. Mereka akan berkembang jika diberikan kepercayaan.

Anak Usia 18-24 bulan: orang tua bisa stimulasi dengan tanya, sebut dan tunjuk. Ajak anak bicara tentang kegiatan sehari-hari. Maka anak akan terbiasa bercerita dengan berbahasa yang baik dan benar.

Cara Agar Perkembangan Emosi Anak Berjalan Baik

Cara Agar Perkembangan Emosi Anak Berjalan Baik

Sebagai orang tua, saya dan sahabat sekalian tentu mengharapkan perkembangan emosi anak berjalan baik. Berbagai cara akan kita lakukan agar anak kita tumbuh dengan baik sesuai harapan dan cita-cita kita sebagai orang tua. Nah, bagaimana cara agar perkembangan emosi anak bisa berjalan dengan baik?

Mungkin, usia anak masih sangat dini, sehingga kita pun sebagai orang tua sering kali membuat kewajaran ketika anak menunjukkan emosinya. Misalnya dengan mudahnya mengomentari “namanya juga anak-anak, wajar saja” dan berbagai komentar lainnya.

Perkembangan emosional dan sosial anak, seusia Nala memang sudah terlihat semakin baik. Selain itu kemampuan mereka juga terus bertambah. Maka dari itu, orang tua perlu memiliki cara terbaik dalam membentuk perkembangan emosi anak.

Dalam berbagai sumber referensi yang saya baca dan dapatkan, cara yang bisa orang tua coba adalah dengan bermain bersama anak. Karena bermain merupakan salah satu kebutuhan primer setiap anak usia 5 tahun ke bawah.

Jadi, cara kita dalam mendukung perkembangan emosi anak tidak lain salah satunya adalah mengajaknya bermain bersama setiap hari. Orang tua bisa mengajak anak bermain peran. Dengan kegiatan bermain, maka anak mampu membangkitkan inisiatif untuk melakukan sesuatu atau sebaliknya.

Semakin sering bermain atau mendampingi anak, maka kita sebagai orang tua pun akan belajar melihat sudut pandang anak-anak. Dengan begitu, maka kita akan mampu memahami lebih jelas alasan mereka menangis atau mengamuk.

Seperti halnya apa yang Nala lakukan dengan saluran emosinya, cara yang bisa saya dan istri lakukan adalah dengan menunjukkan rasa empati dan dengan lembut memberitahu cara menyalurkan emosi yang Nala rasakan. Sebisa mungkin saya menggunakan bahasa yang mudah Nala pahami.

Memang usia Nala masih terbilang terlalu dini, akan tetapi anak usia 0-2 tahun juga perlu distimulus agar perkembangan emosinya dapat terbentuk dengan baik. Saya kira, ini adalah cara yang sampai saat ini dapat saya terapkan, dan memberikan dampak yang baik bagi saya dan anak saya Nala.

Catatan Ayah

Memahami perkembangan emosi anak perlu kita lakukan setiap hari. Memang tidak mudah, karena perkembangan ini berlangsung dengan cepat. Bisa jadi kita sebagai orang tua, terlebih sebagai ayah sering kali terlewatkan berbagai momen perkembangan anak.

Menurut saya pribadi dalam amatan saya kepada anak saya Nala, komunikasi adalah hal yang paling penting. Bagaimana anak bisa menyalurkan emosi mereka, entah itu emosi negatif atau pun emosi positif, melalui komunikasi. Dan benar saja, untuk usia Nala yang masih belum bisa berbahasa ‘yang mudah saya mengerti’ menjadi tantangan tersendiri.

Saya yakin sahabat pembaca juga memiliki cara dan pengalaman yang berbeda dengan saya. Apa yang saya tuliskan dalam catatan ini, tentu tidak seutuhnya ‘benar’ atau mewakili perkembangan anak secara umum. Namun, ini sebagai rangkuman atas pembacaan saya dan pengalaman saya terhadap tumbuh kembang emosi anak saya.

Terima kasih telah membaca catatan ayah kali ini mengenai ; Perkembangan Emosi Anak Usia 1 Tahun. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi referensi kita bersama dalam menjalankan peran mengasuh anak.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai di sini, terima kasih sudah membaca. Salam.

More Stories
Brain Academy Menjadi Ayah ADS
Memilih Bimbel Online Terbaik Untuk Anak