reading, girl, flying

Perkembangan Kosakata Nala

Seperti apa perkembangan kosakata anak? Apakah ada rumus khusus? Bagaimana proses seorang anak mendapatkan satu kosakata baru, dan kemudian melekat sampai memahami makna dan penggunaan kata tersebut? Apakah Perkembangan kosakata anak perempuan saya Nala sudah sesuai? Ini cerita saya dalam menjadi ayah!

Tidak ada habisnya ayah dibuat kagum dengan perkembangan Nala. Hari ini sudah berapa kata baru yang Nala ucapkan, mengikuti ucapan ayah dan ibunya. Bagi ayah, perkembangan kosa kata untuk seusia Nala, sangat luar biasa. Karenanya, ayah menaruh perhatian lebih untuk bisa memberi dukungan kata-kata yang baik sejak dini.

Karena Nala begitu mudah mengulang kata yang muncul dari orang lain, bahkan terkesan spontan cara Nala menirukan ucapan. Menjadikan ayah dan ibunya sedikit khawatir. Terutama ayah, yang sebisa mungkin menjaga Nala untuk terhindar dari kata-kata kurang baik.

Perkembangan Kosakata Anak Dari Lingkungan Sosial

Salah satu sumber Nala mendapatkan berbagai kosakata baru adalah dari lingkungan sosial. Bukan kebetulan kami memutuskan untuk tinggal agak menepi dari hiruk pikuk kota. Saat ini pilihan yang kami ambil adalah hidup di pedesaan.

Konsep masyarakat komunal ala pedesaan, memang menjadi salah satu impian setelah beberapa tahu tinggal di tengah kota dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Harapan besarnya, ayah bisa menghadirkan lingkungan sosial yang lebih baik, yang masih ada interaksi manusia secara utuh.

Dari lingkungan sosial di desa ini, yang mana penduduknya rata-rata adalah penduduk asli Yogyakarta, maka Nala mendapat banyak kosakata bahasa Jawa Kromo Inggil. Dalam budaya Jawa setidaknya ada tiga level bahasa yaitu;

  1. Kromo Inggil – (tingkat tertinggi) penggunaannya kepada orang tua, atau orang-orang yang dianggap terhormat di masyarakat.
  2. Kromo – (tingkatan menengah) biasanya untuk menghormati orang lain yang tidak terlalu akrab atau juga orang asing, atau yang lebih tua tapi akrab.
  3. Ngoko – (tingkat awam) penggunaan tingkat ngoko ini untuk berbicara sehari-hari dengan yang sebagai atau lebih muda.

Ayah sendiri belum menguasai banyak kosakata Kromo Inggil, karena Ayah tinggal dan besar di Kalimantan sebelum memutuskan ke Jogja, sehingga bersama-sama dengan Nala belajar dari masyarakat di lingkungan sosial saat ini. Tentu saja ini menjadi pengalaman yang menarik.

Salah satu pengalaman menarik dalam belajar bahasa Jawa adalah ketika ayah memutuskan untuk menggunakan panggilan sayang bahasa Jawa, dalam benak ayah ini akan menjadi romantis, ternyata tidak semudah yang ada dalam bayangan dalam mengucapkan panggilan sayang dalam bahasa Jawa.

Mencari Dukungan Kosakata Positif Kepada  Lingkungan Pertemanan Nala

Hidup di desa, tentu saja akan lebih banyak memiliki teman akrab, atau tetangga dekat. karena memang konsep kehidupannya yang masih sangat komunal dan sosial. Tentu berbeda dengan dulu ketika ayah tinggal di kontrakan dengan lingkungan Komplek.

Intensitas berkumpul, bertemu, saling kenal tentu tidak benar-benar terjadi ketika kita masih tinggal di Komplek. Ketika di desa, itu semua terjadi secara alami. Maka, Nala pun memiliki banyak teman di sini. Teman-teman yang mendukung perkembangannya.

Nah, menjadi persoalan adalah yang namanya anak-anak, sering kali ‘keceplosan’ kata-kata negatif yang mereka dapat dari sumber tidak sengaja seperti; percakapan  orang dewasa di televisi, percakapan orang dewasa yang mereka dengar secara langsung, atau pengaruh dari konten yang mereka konsumsi melalui gaway misalnya.

Maka, sebagai seorang ayah, tentu saja melakukan antisipasi dini agar Nala tidak terpapar kosa kata negatif. Sehingga lingkaran pertemanan Nala, anak-anak yang usianya sudah di atas 5 tahun ayah coba seleksi pelan-pelan. Dalam artian, memberi pengertian mengenai baik buruknya penggunaan kata-kata.

Sehingga akan terbentuk satu lingkungan pertemanan yang mana ada Nala di dalamnya sebagai balita,  menjadi banyak mendapat dukungan kosakata positif dari kakak-kakak yang menemani Nala bermain.

Kata-kata positif tentu akan membentuk pribadi yang positif, namun bukan berati ayah akan menghindarkan Nala dari pengetahuan adanya kata-kata negatif. Tentu kelak ketika perkembangan Nala sudah siap, akan ada pembahasan mengenai kata-kata negatif.

Hari ini, Nala belajar mengucapkan kata “terima kasih” yang membuat ayah kagum adalah Nala sudah mengerti maksud dari kata tersebut. Tentu saja untuk anak yang baru ulang tahun pertamanya tiga hari yang lalu, ini adalah perkembangan yang luar bisa. Terima kasih ya Nala sudah membuat ayah kagum setiap hari.

Yogyakarta 18 Oktober 2020

More Stories
Memperkenalkan Permainan Tradisional Kepada Anak
Memperkenalkan Permainan Tradisional Kepada Anak