Tradisi Selamatan Kelahiran Anak Adat Jawa

Tradisi Selamatan Kelahiran Anak Adat Jawa

Menjadiayah.com Kelahiran anak menjadi hal yang sangat dinanti oleh kedua orang tua dan keluarga. Maka, tidak heran jika berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut kehadiran buah hati dalam anggota keluarga. Berbagai acara pun terselenggara seperti tradisi selamatan kelahiran anak adat Jawa. Selamatan ini tidak lain sebagai bentuk syukur dan doa agar bayi kecil ini akan tumbuh sehat serta selamat dan terhindar dari bahaya.

Kelahiran seorang anak ke dunia bagi saya memang sesuatu yang pantas dirayakan. Salah satunya melalui tradisi yang sudah ada, baik itu tradisi budaya atau pun yang berkaitan dengan kepercayaan dan ajaran agama.

Nah, selamatan bagi saya sebagai bagian dari rasa syukur dan cara sedekah ‘makanan’ dan meminta doa yang mana bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketenteraman untuk keluarga yang menyelenggarakan.

Ketika Nalaveda lahir, saya pun melaksanakan berbagai tradisi selamatan atau selamatan. Pertama seperti saya sebutkan adalah rasa syukur dan sedekah. Kemudian juga sebagai upaya melestarikan atau nguri-nguri tradisi. Dan bagi saya, selamatan tak ubahnya upacara atau proses yang bersifat spiritual dan bertujuan untuk mencari keselamatan (slamet) yang mana erat kaitannya dengan ajaran agama.

Selamatan sendiri tidak hanya untuk menyambut kelahiran anak, namun dalam berbagai hal lain, selamatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Jawa. Misalnya ketika saya membangun rumah, saya mengadakan selamatan sebagai wujud rasa syukur bisa memiliki / membangun rumah.

Perubahan Tradisi Selamatan Kelahiran Anak Dalam Masyarakat Jawa

Perubahan itu pasti terjadi! Ketika zaman berjalan dan berkembang, tradisi pun mengalami perubahan, baik itu secara pelan, sampai pada perubahan yang mendasar. Tidak sedikit, tradisi atau budaya kemudian hilang begitu saja. Hilang tanpa terasa.

Dalam hal tradisi selamatan kelahiran anak pun, saya kira telah terjadi banyak perbuahan. Tidak hanya yang berlangsung dalam masyarakat Jawa, namun dalam berbagai masyarakat dan kebudayaan lainnya. Perubahan pasti terjadi, karena setiap generasi memiliki cara pandang dan cara hidup yang berbeda-beda. Warisan akan tradisi atau budaya dari nenek moyang atau orang tua mereka, tidak secara utuh diterima begitu saja, tentu ada pergeseran-pergeseran yang dan juga penyesuaian dengan kondisi dan situasi zaman.

Tradisi dan budaya yang mengikuti  perubahan inilah justru yang mampu terus bertahan. Tradisi yang kaku, sudah tentu akan sepi peminat, hanya menjadi catatan, atau berakhir sebagai cerita dan nama saja. Dalam praktik kehidupan kemudian ditinggalkan, atau tidak dapat dilakukan lagi karena tidak sesuai atau tidak  dapat beradaptasi dengan kondisi generasi dan zaman.

Sebatas pengetahuan saya, selamatan untuk kelahiran anak dalam adat Jawa saat ini umumnya meliputi ritual brokohan, sepasaran, dan selapanan. Zaman dulu terdapat banyak bentuk selamatan kelahiran anak, mulai dari brokohan, sepasaran, puputan, selapanan, limang lapanan, dan setahunan. Dan  penyesuaian atas zaman terjadi, maka perubahan pun terjadi.

Tata cara ritual dan budaya mulai hilang dan luput diajarkan ke generasi penerusnya. Kemudian latar belakang finansial dan ekonomi juga menjadi alasan beberapa tradisi ini tidak diteruskan. Memang, biaya pelaksanaan beberapa tradisi adat Jawa bisa dibilang tidak murah lantas. Oleh karenanya, perlu perubahan, perlu ada penyesuaian dengan keadaan sekarang untuk generasi sekarang agar tetap menghidupkan tradisi dan budaya.

Dalam budaya masyarakat Jawa, ada berbagai tradisi selamatan kelahiran anak adat Jawa. Saya sebagai orang Jawa, setidaknya mengenali dalam lingkungan saya ada 6 tradisi selamatan kelahiran bayi adat Jawa yaitu; mendhem batir, brokohan, sepasaran, puputan, aqiqah, dan selapanan.

1. Tradisi Mendhem Batir

Tradisi Mendhem Batir

Dalam masyarakat Jawa mempercayai bahwa ari-ari atau plasenta merupakan batir bayi atau teman bayi, yang telah membersamai anak sejak dalam kandungan. Maka, ari-ari memiliki makna khusus, sehingga menjadi perlu untuk ‘dipulasara’ atau diperhatikan dengan baik.

Masyarakat Jawa percaya bahwa ari-ari harus tetap dirawat dengan baik. Walau secara fungsi medis  tugas ari-ari ini telah selesai ketika bayi telah lahir. Ari-ari dalam tradisi kelahiran anak Jawa mendapat perlakuan khusus oleh dukun bayi atau orang tua anak. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengubur ari-ari.

Tradisi mengubur ari-ari ini kita kenal dengan tradisi mendhem batir. Upacara ini biasanya dilakukan oleh sang ayah atau kerabat. Pemilihan lokasi yang paling umum berada di dekat pintu utama rumah, diberi kurungan bambu dan penerangan selama 35 hari (selapan).

Selain itu dalam masyarakat juga berkembang  pemilihan posisi penguburan ari-ari berdasarkan jenis kelamin. Jika anak yang lahir adalah perempuan maka dikuburkan di sebelah kiri rumah, dan jika laki-laki maka dikuburkan di sisi kanan rumah.

Saya ketika kelahiran Nala, memilih melakukan pemulasaraan ari-ari anak saya sendiri. Menyimpannya dengan rapi di dalam gentong kecil dari tanah liat, kemudian mengubur dengan kedalaman 60 cm. Penguburan yang dalam ini bertujuan agar tidak terendus oleh binatang liar.

Dalam prosesi penguburan ari-ari ini sebagai orang muslim, tentu tidak lepas dari doa-doa dan tata cara peribadatan yang saya pahami. Seperti bersuci, mengambil air wudu terlebih dahulu, memanjatkan doa, sholawat, dan azan.

Jika kita merujuk dalam dunia medis, ari-ari berfungsi untuk menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin di dalam rahim. Melalui ari-ari inilah zat-zat antibodi, berbagai hormon dan gizi disalurkan sehingga janin bisa tumbuh dan berkembang menjadi bayi.

2. Tradisi Brokohan

Tradisi Selamatan Kelahiran Anak Brokohan

Rasa syukur yang membuncah ketika anak telah lahir dengan selamat ke dunia ini, akan terus terasa, dan rasa itu biasanya begitu membuncah pada hari-hari awal kelahiran. Maka dalam budaya masyarakat Jawa ada tradisi brokohan. Tradisi brokohan merupakan salah satu upacara tradisi Jawa yang dilaksanakan tepat sehari setelah bayi lahir.

Jika menilik dari asal usul kata brokohan sendiri berasal dari kata brokoh kemudian mendapat imbuhan -an, menjadi brokoh-an yang memiliki arti sebagai memohon berkah dan keselamatan atas kelahiran bayi. Atau wujud syukur dan memohon berkah untuk kelahiran anak kepada sang pencipta.

Pada umumnya acara brokohan ini dihadiri oleh tetangga dekat dan sanak saudara. Masyarakat dalam lingkungan tempat tinggal pun akan berdatangan dan berkumpul sebagai tanda turut bahagia dan menyaksikan atas kelancaran dan keselamatan kelahiran anak.

Dalam berbagai tempat atau komunitas masyarakat Jawa, di acara brokohan ini tetangga dan sanak saudara yang datang akan membawa berbagai hadiah seperti perlengkapan bayi dan makanan untuk keluarga yang melahirkan. Ini biasa disebut sebagai tilik bayi, atau bayen, atau juga muyen.

Tradisi brokohan, intinya adalah berdoa bersama untuk si bayi untuk kelahiran anak. Dalam acara doa ini diselingi dengan hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Tentu saja persiapan brokohan dibantu ibu-ibu tetangga yang datang sebagai rewang yang kemudian saling membagi tugas untuk menyiapkan hidangannya.

Sementara itu, para lelaki, para ayah, atau bapak-bapak bertugas untuk datang untuk berdoa bersama dalam acara kenduri di malam harinya. Selain itu, biasanya, acara brokohan dilanjutkan dengan budaya sewengenan, leklekan, (berjaga malam). Dalam sewengenan, para bapak-bapak ikut terjaga semalaman dengan tujuan menjaga rumah si bayi, dan saling bersilaturahmi ‘kumpul dulur’.

3. Tradisi Sepasaran

Selanjutnya adalah tradisi sepasaran. Seperti namanya, tradisi yang satu ini dilaksanakan tepat lima hari setelah kelahiran anak. Sebagai informasi, dalam masyarakat Jawa mengenal hari pasaran Jawa yang berjumlah lima hari, ini yang juga menjadi perhitungan weton jodoh dalam budaya Jawa.

Dalam tradisi sepasaran ini, pihak keluarga akan mengundang tetangga sekitar beserta keluarga besar untuk bersama-sama mendoakan atas kelahiran anak. Jika sahabat pembaca pahami, acara sepasaran bayi lahir ini mirip seperti kenduri atau hajatan pada umumnya.

Acara sepasaran umumnya dilengkapi dengan acara kenduri dan bancakan. Seusai pihak tuan rumah memberi sambutan pada para tamu, acara dilanjutkan dengan panjatan doa bersama dan menyajikan hidangan gudangan di tampah besar untuk anak-anak.

Umumnya inti dari acara sepasaran tersebut adalah untuk mengadakan selamatan sekaligus mengumumkan nama bayi yang telah lahir. Namun tidak sedikit yang saat ini menyatukan tradisi sepasaran ini dengan puputan atau  dengan akikahan dalam satu waktu / acara.

4. Tradisi Puputan

Tradisi Puputan

Seperti telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa bisa saja acara puputan dilakukan berbarengan dengan acara sepasaran dan juga akikahan. Namun hal ini bisa terjadi ketika syarat anak atau bayi dinyatakan telah puput, yaitu lepasnya tali pusar.

Penanda upacara atau tradisi puputan bisa dilakukan ketika sisa tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus. Ingat, ini harus putus dengan sendirinya, bukan orang tua yang menarik atau memaksa untuk lepas ya.

Puputan sendiri biasanya berupa kenduri dengan memohon pada Tuhan agar anak yang telah puput puser selalu diberi keselamatan serta kesehatan oleh Sang Pencipta. Jika menilik pada cerita turun temurun, konon, pada zaman dulu upacara puputan dilaksanakan dengan menyediakan berbagi macam sesaji, namun dalam bauran tradisi dan ajaran agama, kemudian terjadi pembauran yang kita kenal acara puputan dengan konsep kenduri seperti saat ini.

Oh iya, sahabat pembaca untuk puputan ini juga tidak menentu waktunya. Ada bayi yang sudah puput dalam 4 hari, ada yang satu minggu, dan bisa satu bulan. Maka ada yang mengadakan puputan bersamaan dengan acara lain, bahkan bisa dengan acara selapanan.

5. Acara Aqiqah Anak

Tradisi Selamatan Kelahiran Aqiqah Anak

Seperti saya ceritakan di atas bahwa dalam masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam akan sangat terasa bagaimana budaya Jawa dan ajaran agama saling berinteraksi sehingga muncul bentuk tradisi yang baru. Saya kira, dalam kepercayaan atau agama lain pun terjadi.

Akulturasi budaya Jawa-Islam yang sangat terlihat dalam tradisi selamatan kelahiran anak adalah upacara Aqiqah. Umumnya, waktu pelaksanaan yang dipilih orang tua dalam melangsungkan Aqiqah anak adalah tujuh hari setelah kelahiran anak.

Memang, dalam berbagai kesempatan saya mendapat informasi bahwa waktu yang diutamakan untuk mengadakan upacara Aqiqah adalah tujuh hari setelah kelahiran anak. Namun, tidak menjadi soal jika dilaksanakan tidak pada tujuh hari. Seperti saya ceritakan, bisa saja dilaksanakan berbarengan dengan tradisi selamatan kelahiran anak adat Jawa lainnya seperti sepasaran, atau puputan.

Bahkan dalam masyarakat, ada yang melangsungkan Aqiqah ketika anak sudah dewasa, atau bahkan ketika akan melangsungkan pernikahan. Ini tentu berkaitan dengan kondisi ekonomi dan kesiapan melangsungkan Aqiqah.

Karena Aqiqah adalah upacara keagamaan di mana keluarga akan memotong kambing sebanyak 2 ekor untuk bayi laki-laki dan 1 ekor kambing untuk perempuan. Secara ekonomi, tentu pengeluaran yang bisa dibilang besar bagi sebagian keluarga. Maka, jangan sampai memberatkan, sehingga bisa dilakukan ketika telah memiliki biaya yang cukup.

6. Tradisi Selapanan

Terakhir adalah tradisi selapanan, seperti namanya acara ini dilaksanakan pada hari ke-35 setelah kelahiran anak. Dalam selapanan anak, rangkaian acara adalah bancakan weton (kenduri hari kelahiran), pencukuran rambut bayi hingga gundul dan pemotongan kuku bayi.

Secara tradisi dalam masyarakat Jawa pemotongan rambut dan kuku ini bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi agar kulit kepala dan jari bayi tetap bersih. Kemudian acara bancakan selapanan dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak juga sebagai wujud permohonan doa agar anak senantiasa sehat dan selamat.

Apa Saja Isi Bancakan?

Saya sering ditanya oleh teman mengenai apa saja isi bancakan ketika kelahiran Nalaveda dulu. Memang tidak ada syarat khusus dalam tradisi bancakan. Namun umumnya bancakan acara selapanan, menyiapkan berbagai hal berikut:

  1. Tumpeng weton: 7 jenis sayuran, yaitu kacang panjang, kangkung dan 5 jenis sayuran bebas.
  2. Telur ayam yang telah direbus dan dikupas kulitnya berjumlah 7, 11 atau 17 buah.
  3. Bumbu urap atau gudangan yang dibuat tidak pedas, untuk membedakan antara acara bancakan weton untuk anak bayi dan orang dewasa
  4. Menyiapkan 7 jenis buah-buahan yang mana salah satu di antaranya adalah pisang raja
  5. Cabai dan bawang merah yang nantinya akan dipasang di puncak tumpeng weton
  6. Menyiapkan 7 jenis bubur, di mana 6 di antaranya merupakan bubur kombinasi berupa bubur gurih (putih) dan bubur manis (merah) serta satu bubur baro-baro yang merupakan bubur gurih yang ditaburi kelapa parut dan potongan gula kelapa
  7. Jajanan pasar, atau jajanan warung.
  8. Bunga (untuk memandikan bayi)

Perlu sahabat pembaca catat, bahwa hal-hal di atas tidak wajib hukumnya. Tentu yang menjadi inti adalah bagaimana rasa syukur dan sedekah atas kelahiran dan keselamatan anak. Yang saya bagikan di atas ini sejauh pemahaman, dan catatan saya dalam menyelenggarakan tradisi kelahiran anak saya Nalaveda.

Catatan Ayah Selamatan Kelahiran Anak

Tradisi-Selamatan-Kelahiran-Anak

Sebagai orang tua tentu kita akan sangat bersyukur ketika anak telah lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apa. Maka, dalam perkembangan masyarakat respons rasa syukur ini pun beragam, seperti berkembangnya tradisi selamatan kelahiran anak adat Jawa, atau adat budaya daerah lain yang juga berbeda-beda.

Selamatan, atau upacara tradisi dan budaya bagi kelahiran anak bermakna sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Juga bentuk memaknai kelahiran sebagai sebuah awal kehidupan manusia yang akan diikuti dengan tugas berat orang tua selanjutnya, yaitu merawat, mengasuh, mendidik hingga dewasa dan bisa mandiri.

Pada dasarnya, bentuk tradisi selamatan kelahiran anak dalam adat Jawa ini memiliki manfaat yang sama. Pertama untuk mempererat tali silaturahmi antar satu dan lainnya, kemudian juga mengenang hari lahir sang bayi, dan menjadi wadah harapan orang tua dan keluarga agar anak selalu sehat.

Tradisi pun tidak pakem atau kaku. Terjadi banyak perubahan atas tradisi kelahiran anak adat Jawa. Entah itu karena akulturasi budaya, penyesuaian generasi, namun yang pasti perubahan akan sebuah budaya itu nyata adanya.

Terjadinya perubahan tradisi dan budaya, tidak bisa dicegah maupun dibatasi. Apakah perubahan itu dalam kemajuan maupun kemunduran akan tetap terjadi. Generasi masyarakat  Jawa saat ini yang masih menganut tradisi leluhur, pun tidak sepenuhnya dapat menjalankan seperti leluhur mereka dulu. Termasuk dalam tradisi selamatan kelahiran anak. Terjadi banyak perubahan.

Terima kasih telah membaca catatan ayah kali ini mengenai ; Tradisi Selamatan Kelahiran Anak Adat Jawa. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi referensi kita bersama dalam menjalankan peran mengasuh anak.

Mohon maaf jika terjadi salah kata, saya hanya ingin menuliskan bagaimana pengalaman saya menjadi seorang ayah, menjalankan parenting lelaki melalui blog saya menjadiayah.com. Ayah Nala cukupkan sampai di sini, terima kasih sudah membaca. Salam.

More Stories
Ruangbelajar Solusi Belajar Online Anti Pusing
Ruangbelajar Solusi Belajar Online Anti Pusing